Permintaan Aneh

Begini, bisa dibilang, saya orang yang paling bingung jika berurusan dengan satu bagian dari hubungan interpersonal. Ah, saya ingat satu judul buku favorit saya, Berani Tidak Disukai, yang dulu sempat-sempatnya saya habiskan saat saya terhimpit banyak tugas kuliah... with a reason, absolutely. Coy, bukunya keren abis, dan saya mendapat barang sedikit-banyak perubahan sikap dari that awesome masterpiece, huh.

Apa nih, kaitannya bingung dengan buku yang saya sebut-sebut. Ya, buku itu memberi saya saran untuk bersikap pro aktif dengan hal yang saya hadapi, salah satunya terkait masalah hubungan interpersonal ini, dan saya bingung melakukannya karena... tidak semudah dan senyaman itu dirasakan.

Saya bingung ketika orang lain menyuruh saya untuk jangan terlalu banyak menghabiskan waktu bersama teman, dan saya diberi mandat untuk pulang ke keluarga. Sounds good, but, uhm, okay. Ada banyak hal yang berkecamuk di dalam benak dan pikiran saya jika menyangkut hubungan interpersonal bersama keluarga.

Saya kenyang dengan film Barat berbahasa Inggris, dari beragam genre, mulai horror, thriller, drama, romance, comedy, dan masih banyak lagi, yang di dalamnya menunjukkan adegan komunikasi keluarga. Ini bagian manis-manisnya aja, sih. Sesimpel adegan ranjang.... nope, adegan bocah mau tidur, tapi harus di 'nina bobo' kan ibu atau ayahnya dulu dengan cerita-cerita bodoh mereka? Atau dongeng-dongeng, pertanyaan seputar impian masa depan, dan lain sebagainya. These next secenes are so heartwarming personally for me. Ajakan kemah musim panas, menonton lomba, perayaan diterima di Ivy League, random deep talk between mom and her boy di pinggir sungai Thames, menangis, berpelukan, ngebar bareng, dan lain sebagainya. Dialog seruan berupa "mommy! daddy!" it feels like there's a glue yang merekatkan mereka secara batiniah, sehingga anak menganggap orang tua sebagai rumah kedua selain diri mereka sendiri, sesederhana dari kata ganti tersebut dulu aja, kalo untuk konteks, ya beda lagi. Saya secara tidak sadar menyoroti adegan tersebut dan doing such comparisons with things that I have. Gimana dengan film Asia dan benua yang lain? Uhm, jangan salah, ada kok, contohnya. Tapi saya lebih melekat dengan Bahasa Inggris dan mohon jangan todong saya dengan tuduhan Barat sentris atau as white supremacy supporter. Selera saya yang bicara, kalau saya menyukai kebudayaan mereka, kalau mereka asshole ya asshole aja. Adegan-adegan dalam film tersebut telah mengambil perhatian saya, dan saya merasa, adegan tersebut damn sweet, yang juga membuat susah move on selama beberapa hari. 

Perhatian semacam itu apakah diperoleh karena tradisi atau boleh kita tembak dengan memandang pendidikan masyarakatnya? Mari tinjau ulang dari inisiatif, gelagat, perbendaharaan kata, dan lain sebagainya yang orang tua-orang tua tersebut berikan kepada anak-anak mereka, semua terasa sangat manis dan bikin terharu, benar-benar untuk banyak tokoh orang tua di film yang saya tonton. Percakapan yang terbangun antara orang tua dan anak yang saya amati memang menelisik ke dalam, terkesan egaliter, alih-alih berunggah-ungguh. Maksudnya, saya melihat kenyamanan ketika orang tua di film sama seperti saya berhubungan dengan teman. Beberapa teman saya.

Untuk hubungan yang berlangsung sangat kaku--tapi jangan berfikir bahwa there's no affection at all, huh? Ada, kok, cuma, penyampaiannya saya secara pribadi lebih prefer ke hubungan selayaknya teman dan we're able to be transparent. Celakanya, kami tak dapat berlaku demikian dan kami terhalang dinding kokoh pembatas batin. Tapi saya membutuhkannya, sangat membutuhkannya. Kami dekat, namun tak dekat. Sudah sadar saya tidak punya teman, ketambah lagi keluarga yang kaku. Mau dibawa kemana keluh kesahnya? Saya paham betul, deep talk dengan orang yang tepat sangat mahal harganya. Maka dari itu, ketika teman saya sekonyong-konyong menyuruh saya untuk pulang, saya ingin menempeleng kepalanya. Namun saya menyadari, tidak semua teman saya maupun keluarga memiliki energi untuk membangun kebahagiaan saya.

Masalah hubungan yang sekaku ini didasari oleh orang tua yang tidak memiliki pengetahuan dalam memahami bangunan komunikasi rumah tangganya, saya rasa. Beberapa orang zaman orang tua saya, bahkan sekarang, menganggap pernikahan sebagai suatu kewajiban untuk perolehan validasi agar tidak dianggap 'tidak laku'. Masalah sejauh komunikasi dapat luput, karena sudah beranak duluan dan kepepet tanggungan ekonomi. Karena kami bukan turunan dari sosok serupa Elon Musk (ini aja belum jaminan). Perpanjangan tangannya adalah, komunikasi dapat membangun kualitas hidup seseorang, melalui penyingkapan kondisi nyata seseorang dalam suatu diskusi pencarian solusi, salah satunya. Dalam hal ini, mungkin bagi anak-anak yang butuh perhatian ketika mengalami masalah. 

Ah, masalah proaktif. Wacana yang menarik. Saya disarankan untuk memulai sesuatu terlebih dahulu dan terlepas dari pengaruh apapun. Ini tidak mudah, bayangkan jika anda dipaksa flirting kepada staf keuangan kampus anda. Bagi saya, komparasinya sepadan untuk keluarga saya. Saya akan memilih berbicara seadanya alih-alih dianggap aneh dan diusir. Namun efeknya, beban saya tidak serta-merta hilang dalam pembicaraan yang seadanya itu, bahkan dirahasiakan, karena kami tidak transparan. Kekakuan ini mau diperlakukan seperti apa kiranya? Bagi saya pribadi yang ingin merubah atmosfer komunikasi--membuka lembaran baru dengan pasangan dan keluarga baru saya--akan mudah tampaknya. Saya kurang yakin, apabila yang kaku dapat dilemaskan. Namun saya mengetahui ada cerita keberhasilan di percobaan tertentu. Barangkali keadaan diri saya. Menyoal waktu, mari ditunggu saja lah.

Beberapa kali saya bercerita kepada teman saya bahwa, "betapa beruntungnya pemeran film tersebut, jika memang nyata adanya, betapa beruntungnya mereka yang memiliki bangunan komunikasi seperti itu."

Teman saya menimpali, "Ya, dicobalah dulu dengan keluargamu, coba kamu yang mulai."

Saya meragukan kemampuan diri saya, "Ah, sepertinya ada cara lain untuk meraih keadaan itu."

"Apa itu?" teman saya penasaran, sembari menyesap es matcha-nya yang terlalu pekat.

"Bagaimana kalau ganti orang tua? Sepertinya ide bagus." saya dengan polosnya.

"Oh, anak tolol!"

Komentar

Postingan Populer