BATU SANDUNG



Saya bersama dengan pelajaran yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca, mengatakan bahwa, perlunya saya membawa panji-panji kemerdekaan diri saya. Untuk beberapa hal, ketahuilah, saya demikian adanya. Merdeka sebagaimana yang bisa sedikitnya orang pikirkan. Khusus untuk suatu hal, saya payah, saya merasa kewalahan untuk mengatur strategi sedemikian rupa, agar saya dapat benar-benar stabil secara emosional, kapanpun saya berada dalam hal yang saya maksud ini.

Seseorang, sekonyong-konyong membuat saya seperti orang bodoh. Saya banyak memberikan masukan kepada teman saya dalam urusan hubungan asmara mereka, agar bersikaplah seperlunya, siapapun orangnya. Menyinggung hubungan asmara, saya tidak tahu, apa persisnya istilah yang tepat untuk kepelikan yang seolah-olah saya buat sendiri seperti ini. 

Roman banyak memberikan ragam kisah cinta yang dimiliki tokohnya. Berangkat dari hal yang tidak mengenakkan sekalipun, kalau penulis sudah berkehendak untuk menyatukan mereka, mereka akan bersatu. Akan begini kah saya? Kalian mohon untuk tidak menodong saya mengenai siapa orang yang saya maksud. Saya hampir-hampir membencinya karena kepelikan yang saya buat sendiri. Astaga.

Kehadirannya seakan membuat saya harus bingung tidak kepalang. Perangainya yang demikian adanya, membuat saya selalu merasa, bahwa saya selalu jinak dibuatnya. Menyedihkan, bukan? Saya mengenyahkan perasaan ini karena orang akan menganggap saya memiliki nafsu untuk superior terhadapnya. Saya tidak demikian, saya berusaha sedemikian rupa untuk berperasaan setara saat mengingatnya. Alih-alih saya merasa, saya mendapatkan rasa itu, namun tidak nyatanya. Dia yang merajai seisi fikiran dan perasaan saya.

Kurasa, dia hadir sebagai sosok sekeras batu. Dia jelas khatam, apa yang baik baginya, dan tangannya terbuka bagi siapapun yang meminta bantuannya. Dia selalu siap dengan gagasannya dalam menghadapi suatu persoalan, dia banyak tahu. Saya tidak meriset kepribadiannya secara langsung, karena saya rasa, saya tidak memiliki urgensi untuk melakukannya. Kepribadiannya dalam diri saya terbentuk oleh prasangka saya, bisa jadi salah. Kami ya ng sudah sangat lama tak bertemu, terhalang bagi saya untuk menyaksikan seluruh gelagatnya dalam menyikapi suatu persoalan. Agaknya, saya mengambil kesimpulan dari hal-hal seperti itu.

Begini, potensinya untuk mematikan diri saya, saya ketahui sudah sejak kita berkomunikasi. Dari sudut pandangnya, boleh jadi ini hal sepele. Bagi saya, hal seperti ini dapat saya terjemahkan lebih lanjut lagi, sesimpel tanggapan yang saya terima. Agaknya, hal ini mempertajam anggapan saya terhadap seseorang. Saya begitu sensitif.

Sejauh ini, saya merasa tidak nyaman membicarakan sosoknya. Benarkah ini sentimen saya belaka, atau mungkin saya sedang kelelahan? Entahlah, kondisi seperti ini terjadi sebegitu seringnya. Dinamika, namun dengan sensasi yang sama.

Di lain kesempatan, dia hadir sebagai sosok yang bersedia dan tanggapannya hampir memahami setiap gerak maksud yang saya harapkan--dalam sebuah percakapan berarti. Kami memiliki kepekaan yang berbeda, dia menganggapku sebagai sosok yang peka, entah sedalam apa. Sosoknya menempati banyak bagian sendiri dalam diri saya. Kehadirannya saya nantikan pada suatu kesempatan untuk menebus kebutuhan emosional saya sebagai manusia. Kami sangat menyadari bagaimana idealnya membangun hubungan yang baik, iktikad dan niat merupakan dua hal yang kami rasa wajib. Selanjutnya, dua hal ini ditransmisikan kepada aksi-aksi yang relevan, dengan kemampuan inisiatif dan improvisasi masing-masing. 

Sebentar, 'kami?'. Saya bahkan belum mendapat persetujuannya untuk menggunakan penyebutan ini bagi saya dan dirinya. Akan kalian terjemahkan apa ucapan saya? 

Dinamika emosional yang saya singgung di atas, tidak jauh-jauh dari perasaan saya: saya merasa dijinakkannya, namun tidak berlaku sebaliknya. Saya mendambakan, kemerdekaan diri yang saya dapatkan dari proses belajar saya menuntun saya untuk berperasaan serupa terhadapnya. Saya juga menduga, mengapa saya menganggap kemerdekaan diri ini sebagai suatu obat? Agaknya, karena prasangka saya sendiri, atau jika memang karena perangainya yang saya takut tak bisa mengimbanginya, itupun masih bisa disikapi.

Yang saya perlu ketahui, apapun bentuk aktivitasnya, saya tidak menganggap hal tersebut berpengaruh bagi kehidupan saya. Suatu pengaruh saya terima karena saya ingin mengambilnya. Apapun, benar-benar apapun--yang menjadi opininya, saya harap, tak lagi menjadi beban berat yang harus saya pikul. Itu urusan si pengucapnya. Permasalahannya adalah bagaimana faktanya, semua menjadi begitu sederhana jika saya mau mengakui jika itu benar, dan tinggalkan jika itu salah. Sayangnya, saya masih kewalahan untuk usaha yang satu ini. Betapapun kalian harus dukung saya.

Sekian.

Komentar

Postingan Populer