Duh, Gusti.



Saya kewalahan, saya menjadi palsu dan kontradiktif dengan apa yang banyak saya suarakan. Maksudnya apa? Ah, iya, kalian pasti bertanya-tanya, apa persisnya yang saya ingin katakan kepada kalian.

Eh, hai, sebelumnya, saya kelupaan untuk menyapa kalian. Kalian bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan diberkati Tuhan, ya. Aamiin.

Malam hari ini, saya sebetulnya ingin membabat banyak halaman buku Northanger Abbey milik Jane Austen. Saya memang mengagendakan hari ini untuk menuntaskan lebih dari 150 halaman. Saya melahap sekitar 70 halaman dari pagi hingga petang, dan 20 halamannya di malam hari. Entahlah, sehabis menulis blog ini apakah akan saya lanjutkan atau tidak. Saya mandek di bab dua belas dan akan lanjut ke bab tiga belas. Mendadak saya memikirkan soal perkembangan sekolah adik saya, saya malu akan tweet saya karena saya ungkapkan disana bahwa malam hari ini bersiap untuk melahap 100 halaman, namun saya hanya mampu seperlimanya. Pain.

Saya memiliki dua adik perempuan yang masing-masing kelas 3 dan 1 SMP di sekolah yang berbeda. Mereka sekarang terpaksa harus belajar mandiri di rumah karena.... oh astaga saya ingin sumpah serapah terhadap C word ini. Saya biarkan mereka untuk belajar sendiri, dan memperjuangkan pendidikan mereka dengan jerih payah mereka sendiri, lagipula saya juga ingin menikmati lebih lanjut cerita Catherine dan Mr.Tilney yang belum rampung ini. Atau katakanlah, saya malas mengurusi mereka.

Namun, saya cukup banyak menuntut agar adik-adik saya menjadi sama baiknya dengan saya, atau malah lebih baik. Di lain hal saya malas membimbing mereka.

Suatu hari, saya banyak dikejutkan dengan hasil laporan pencapaian mereka selama setiap semesternya. Entahlah, saya merasa sedih dan terpukul. Sedih karena hasilnya tidak mencapai apa yang saya anggap itu standar. Saya merasa perlu turun tangan untuk hal ini.

Kalian tahu? Saya memang mengerti ada banyak sekali cara untuk menjadi pintar, apalagi di masa pandemi sekarang ini, sistem belajar bisa dikustom sesuka hati. Ya, ini benar, namun saya rasa ini hanya saya pahami sendiri. Sedangkan adik saya tidak, tidak sama sekali. Saya pada dasarnya tidak mengerti kesulitan yang mereka hadapi, namun saya banyak menuntut mereka untuk belajar mandiri, dengan berkata, "Jangan gunakan telepon pintarmu hanya untuk kesenangan saja. Itu mubadzir, gunakanlah untuk belajar."

Kerja bagus kawan, kau berhasil menyampaikan pidato usang yang tidak solutif.

Perkataan saya hanya sebatas itu; menyuruh, dan menyuruh mereka. Setidaknya suatu hari saya pernah membimbing mereka dalam mengerjakan tugas mereka, dan saya sangat tidak sabaran. Ingatkah kalian dengan saya--menjadi--palsu--dan--kontradiktif di awal blog ini? Ya, saya merupakan orang yang sangat vokal dengan kelembutan cara belajar, dalam artian saya ingin membuat diri saya pribadi memahami sesuatu secara komprehensif secara perlahan namun pasti, saya tidak suka akan kekerasan dalam mengajar, walaupun itu sebatas verbal. Saya benci gentakkan, saya selalu terkesima dengan sosok-sosok yang arif dan bijaksana, walaupun mereka bukan guru, namun mereka seorang yang teladan. Saya malah berlaku yang sebaliknya.

Tolong jangan katakan saya nyaman dengan cara represif dalam mengajar. Saya sebetulnya nol besar dalam menjadi guru. Entahlah, mau dikatakan puas atau tidak setelah saya marah-marah setiap mengajar adik saya, saya menuntut mereka untuk berfikir  dan paham secara cepat. Wah gilanya.

Malam hari ini terjadi konflik batin yang hebat dalam diri saya. Saya hanya mampu menuliskannya di sini.

Saya mau, adik-adik saya memiliki kesadaran intelektual yang tinggi, dan mereka cukup tahu bahwa mereka memiliki masa depan yang cerah. Mereka sudi mengakui bahwa pelajaran yang mereka terima lekat letaknya dengan kehidupan mereka, dan mereka menyadari betul akan posisi mereka di masa depan. Jika pada dasarnya mereka membidik beberapa profesi, katakanlah sebagai ahli rias, guru, arsitek, ilmuwan, dosen, dokter, dan profesi keren lainnya, ini berarti mereka sadar akan proses-proses yang njelimet di depan mata. Saya harap, adik saya sadar akan hal tersebut dan memanifestasikannya kepada tindakan yang nyata.

Namun saya hanya meracau, jika semisal saya hanya ungkapkan tanpa saya beri tahu, bagaimana cara mengejarnya dari titik yang paling dasar. Terlebih saat situasi seperti ini, mereka tidak tahu harus bagaimana karena di satu alasan mereka takut karena kena omel atas kebodohannya. Astaga, ini saya sedikit-banyak malah yang menambah kebodohan itu dengan memberikan rasa takut untuk bertanya. Saya juga benci dihujat ketika pertanyaan saya nyeleneh, basi, retoris, dan lain sebagainya.

Ketika saya pada akhirnya turun tangan dan masih mengajar mereka dengan cara yang represif ini, saya paham dari kedongkolan hati saya, sampai mana kiranya kemampuan adik-adik saya. Nah, inilah, yang mungkin menjadi isu terbesar bagi para guru yang budiman. Murid mereka banyak dan masing-masing adalah unik, termasuk adik saya. Namun mereka dituntut ini dan itu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau saya boleh meracau lagi; hasilnya pun masih belum memuaskan, memang banyak yang sekolah, namun tak banyak yang dapat memaknai sekolahnya itu. Saya pahami tugas guru yang berat ini, mereka harus menguasai medan berupa tingkat kemampuan masing-masing peserta didiknya, untuk menjawab pertanyaan menohok dari orang tua yang yah, mungkin lepas tangan dari kebutuhan anaknya dan menyerahkan urusan pendidikan anaknya begitu saja kepada sang guru. Ini hal yang sulit, sangat sulit dan menantang. Bagi saya, pendidikan memberi pencerahan bagi setiap manusia, ia dikuatkan melaluinya, dan pendidikan harus merasuk ke setiap dari manusia-manusia ini. Belajar untuk memperkayanya selalu santer akan cerita-cerita yang melelahkan, dan dramatis. Tidak instan, dan prosesnya panjang.

Menuju ke zaman yang serba otomatisasi, pasti banyak tuntutan karena segalanya dipermudah. Termasuk dalam hal pendidikan. Siapa peduli, sumber-sumber belajar bertebaran namun anak masih tak mengerti apa yang harus dilakukan?  Silakan orang tua membantu, silakan tanyakan, silakan ini dan itu. Pernyataan ini agak menjengkelkan karena orang tua seperti saya harus direpotkan seperti ini. Pasalnya, zaman saya sekolah dahulu, modul belajar dan teknik belajar tersedia dan disampaikan secara langsung, jika malu bertanya dapat langsung bertanya ke guru, nyontek, mendapatkan soal-soal yang serupa dan sama serupa contoh soal pada materi dari buku LKS, dan keistimewaan kehidupan pendidikan luring lainnya. Sekarang benar-benar struggle, dan yah, struggle. Tidak lain dan tidak bukan.

Sejatinya, banyak paper-paper, Power Point, artikel berisi materi pembelajan di internet ini. Lebih lanjut, ada video pembelajaran beserta soal-soal latihan gratis akses, perpustakaan digital, dan lain sebagainya. Saya menyadari keberadaan produk-produk pendidikan ini karena memang saya juga berhubungan langsung dengan produk tersebut. Mengapa saya marah-marah? Saya menganggap hal ini memang mudah akses. Benar, namun hanya bagi diri saya yang gemar berinternet sejak hampir delapan tahun yang lalu. Bagaimana dengan adik saya? Entahlah, mereka sudah harus tahu. Hahaha, boekan. Mereka mungkin saja menggunakan internet ketika tahap perkembangannya sudah secanggih ini, namun apakah mereka sudah terpapar wawasan tentang bagaimana mengenali produk-produk tersebut satu per satu? Jika menuntut kreativitas, inisiatif dan sebangsanya, akan datang dari mana jika tak ada pancingan? Tanpa arahan, mereka akan cenderung memanfaatkan telepon genggam mereka untuk sesuatu yang sifatnya senang-senang saja.

Saya kerap memberikan masukan untuk solusi seperti pengadaan virtual class seperti yang saya biasa lakukan ketika kuliah. Saya menyadari, hal ini sangat krusial bagi manusia-manusia yang tahap kesadaran intelektualnya sudah dituntut matang--karena somehow saya sudah dewasa. Namun, kelas ini masih sangat terbatas jumlahnya bagi adik-adik saya, belum sebanyak saya, yang bahkan saking banyaknya kelas daring, saya bisa lewatkan untuk tidur siang, karena terlalu lelah. Mari berdoa semoga sekolah memiliki solusi terkait hal ini.

Terkadang saya tidak terima jika hal seperti ini dikritisi, pihak-pihak tertentu bersikap pasrah semi lepas tangan dari tanggung jawab mereka, dan cenderung menuntut kami bekerja alih alih seumbang namun berat sebelah. Namun kali ini, saya akan berinisiatif untuk membenahi diri, saya akan mengaktifkan fitur baru dalam diri saya, yaitu menjadi seorang guru amatir bagi adik saya. Doakan saya, semoga tidak menjadi orang yang mudah marah karena kelambanan adik saya yang wajar ini.

Komentar

Postingan Populer