Celoteh Kuliah

Halo!! Sudah cliche ya buat ngomongin kenapa saya absen terlalu lama dari blog, khususnya untuk tulisan-tulisan pribadi saya. Satu semester kemarin, pasti ada dari kalian yang langsung kabur melihat laman blog saya, hahahaha. Paham deh, paham. Karena isinya tulisan inti isi kuliah saya di mata kuliah Sejarah Asia. Dosen saya ini punya tugas yang banyaknya nggak karuan, saking banyaknya, bahkan nggak efektif. To be honest aja ya, haha. Ngomongin bosen-nggak bosen soal sesuatu, khususnya materi kuliah yang saya post di blog ini, sebetulnya subyektif, sih. Ya barangkali, buat orang-orang yang tercatat di statistik pengunjung blog ini bener-bener penasaran sama isi kuliah Sejarah Asia, yang kalo dibilang-bilang, cukup rare dibanding Sejarah Barat.

Anyway, ini blog pertama saya di tahun ini. Isinya nggak langsung bakal nyeritain hal-hal yang enak, sih. Tapi it's okay, nanti bisa ada varasi, kalo dapet hidayah buat nulis lagi, haha. Saya bakal literally sambat di blog ini, bukan menyatakan hal ini sama rata dialami oleh orang yang posisinya sama kayak saya, dan berarti tulisan ini subyektif.

Saya, dulu, sehari-hari selama kuliah, bahkan pas liburan semester, terkadang mikir, kenapa ya dosen-dosen aku wawasannya luas banget? Bisa ngasih tau ini dan itu, bisa nyuruh bikin tugas ini dan itu, dan yang lebih penting bisa nuntut ini dan itu? Mereka dalam pikiran saya ya, orang-orang yang tau segala. Bukan cuma dosen aja, kadang teman-teman saya demikian, atau orang lain di luar sana yang saya lihat-lihat dari beberapa pertimbangan, entah di Twitter, atau akun media sosial mereka yang lain. Why does people are clever so freaking bad? Sampai terkadang, saya terombang-ambing dengan opini mereka, kiranya, saya mau pro dan kontra sama siapa dalam suatu pernyataan, argumen, dan opini yang mereka tunjukkan.

Sayang juga, pernah ada pernyataan kalau, kuliah itu gampang dibanding something. Wah, males dah kalo bawaannya adu nasib kayak begini. Judgemental dan terlalu menyepelekan. Hidup terlampau jauh dari abad renaisans, membuat manusia-manusia sekarang, apalagi bagi jenis manusia yang mendapatkan pendidikan, dituntut untuk kritis, inisiatif, dan sempurna di mata orang lain. Well, that's  damn ture. Apalagi kita hidup di zaman kebanjiran kecanggihan IT, dimana kemudahan akses informasi itu ada. Makin-makin, deh tuntutannya.

Di setiap semester, saya memiliki beban SKS yang saya harus tuntaskan di seluruh mata kuliahnya. Ngisi Kartu Rencana Studi, saya awas terhadap daftar mata kuliah yang saya ambil untuk semester berikutnya, plus mikir, wah ini matkul mau ngomongin apaan deh? Tugasnya kekmana? Dosennya gimana nih wataknya, bisa bikin suasana kelas enak nggak ya? Nah gua mudeng materinya gimana nih caranya kalo udah mentok?. Ya walaupun ujung-ujungnya bakal nggak ada jawabannya, dan tetep ngambil.

Di tengah perkuliahan ini, jadi waktu dimana saya harus tetap waras--di tengah banyaknya hal yang harus diurusi satu per satu. Sebadan ini, sepaket deh sama dalemannya, dituntut untuk memikul banyak tanggung jawab, entah sebagai mahasiswa, sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai penganut agama, sebagai anggota organisasi, sebagai panitia event, dan berbagai posisi lain beserta tanggung jawabnya. Makin nambah tahun, tantangannya semakin menjadi-jadi. Siap nggak siap, saya bakal lewati itu, waktu tidak peduli rengekan alasan, untuk sekadar menjedanya sebentar, demi bersiap-siap. No. Big no. Silakan lewati.

Dari sejumlah mata kuliah yang saya ambil, seluruhnya menuntut untuk memberikan bentuk karya ilmiah yang baik, yang disepakati secara akademis. Manusia selalu lekat dengan suka dan tidak suka, sedangkan kita harus dituntut master di seluruh hal yang sudah jadi kewajiban, dalam hal ini, ya mata kuliah itu. Saya terkadang berfikir untuk membandingkan diri saya dengan orang-orang berpengetahuan segala, seperti yang saya terangkan di atas, bagaimana mereka bisa menjawab semua tuntutan? Saya merasa seperti terlalu kewalahan mengejar ketertinggalannya, saya merasa, diri saya sama sekali belum melampaui batas minimal untuk dikatakan menjadi anggota masyarakat akademis, apabila kategorinya adalah sumbangan pikiran melalui karya ilmiah yang pasti. Atau sebutlah, tugas-tugas yang biasa saya kerjakan. Atau bahkan tuntutan saya terlalu tinggi dalam hal ini? Mengingat tugas-tugas ini hanya sebagai latihan, agar terbiasa saat menulis skripsi? Entahlah, saya merasa bahwa sebentuk tugas sudah merupakan karya tulis ilmiah yang perlu dipertanggungjawabkan. Pasalnya, suatu karya ilmiah dibuat mencerminkan diri saya; jika bentuk jadinya kepergok Turnitin lebih dari 70 persen, itu maknanya saya tak memiliki ruh sedikitipun untuk serius dalam hal ini, saya seperti tidak hidup. Namun anehnya, berusaha hidup pun saya kesulitan, saya seperti tergencet dan tersasar, hidup enggan mati tak mau, saya ingin berhasil tapi saya tak kuasa, ini sangat sulit untuk dilalui.

Menulis beberapa tugas sebentuk makalah itulah, saya menemukan titik kekurangan saya, dimana saya belum mampu untuk melakukan organisasi narasi. Saya sering merasa overwhelmed dan mengalami kebuntuan berfikir, sontak saya seperti ingin menyudahi semuanya, ditambah pikiran saya menuju pada bayangan menulis skripsi yang sangat melelahkan baik fisik maupun psikis. Saya merasa stress sendiri, sedangkan skripsi adalah momen puncak bagi kebanyakan mahasiswa sarjana. Karya tulis ilmiah ini akan hadir di setiap mata kuliah yang saya ambil, sebagai bukti tebusan perjanjian sebagai anggota masyarakat akademis. Orang-orang di luar sana akan berfikir, saya orang suka nulis, mustahil kelimpungan masalah tugas. Hahahahaha boekan, saya hanya manusia biasa.

Mahasiswa dituntut untuk rakus di setiap mata kuliahnya, di kelas-kelas akan selalu ada obrolan akademis dimana orang-orang di dalamnya siap mendengarkan secara seksama ucapan kita, baik dosen maupun audien yang lain. Entah mengapa, saya merasa, tingkat kecerdasan, kepandaian, dan kepintaran seseorang mencerminkan bagaimana seseorang itu bersikap dan bertutur. Berkaitan dengan mata kuliah ini, saya merasa membutuhkan banyak sekali ragam asupan agar seluruh bahan ajarnya masuk dengan baik ke dalam fikiran saya, menguat dalam sebentuk konsep. Saya terkadang mengeluhkan, mengapa saya tidak suka dengan buku-buku pelajaran, dan bingung sendiri, buku berbobot yang kepentingannya jauh dari kebutuhan kuliah malah saya geluti ketimbang buku materi kuliah itu sendiri. Buat apa coy? Bikin story dengan kata-kata indah demi membentuk citra diri bagi orang lain? Hahahaha boekan, ndoro. Saya akui, sebetulnya, agak mustahil untuk menyukai seluruh mata kuliah yang terdapat di buku panduan mahasiswa jurusan, dan manusia seperti saya juga payah dalam urusan multitasking. Agaknya, tak master atau bahkan kategori cukup bagi beberapa mata kuliah selain kesukaan menjadi wajar bagi saya, atau bagi mahasiswa yang lain juga, dan hal kewajaran ini sepertinya belum saya dengar sebelumnya.

Saya juga orang yang menyukai suasana hiruk-pikuk dialog akademis, dimana pernah saya dapati tempo hari di semester lalu. Suasana tersebut saya rasakan seperti tebusan dimana seorang pemikir harusnya memiliki agendanya. Namun semakin ke sini, entah mungkin saya akan menelan ludah sendiri, saya juga terkadang dibuat sulit oleh dialog akademis itu, dimana akan ada perdebatan sengit mengenai suatu hal, dan saya benci dipersulit. Masalah terbesar saya dahulu adalah bagaimana menghadapi pertanyaan kritis dari audien, yang ketika saya gagal menjawabnya, saya merasa kalah telak dan menjadi orang terbodoh di seluruh dunia. Saya ingin membenamkan diri ketika blunder. Dari sini, saya mengerti, proses belajar dan sesimpel memahami wacana di depan mata membutuhkan upaya ekstra. Bagaimana suatu gagasan tertancap kuat mengakar, perlu keterampilan menyerap bacaan, dimana selanjutnya akan masuk ke tahap proses berfikir, mengaitkan gagasan tersebut ke sebentuk permasalahan yang lainnya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga, perlu pemahaman luas terhadap berbagai permasalahan yang menjadi bahasan. Saya merasakan bagaimana melelahkannya belajar untuk mengerti informasi se detail mungkin, agar seluruh pernyataan memiliki pembuktian, bukan sekedar pernyataan. Saya perlu memahami pakem-pakem umum untuk menjawab berbagai pertanyaan tak terduga, setidaknya, saya dapat berusaha merangkai jawaban yang sedikit relevan, karena sifat umum dari pakemnya itu berlaku bagi subjek dan objek manapun. 

Kegagalan membentuk suasana kelas yang hidup juga dipengaruhi oleh seluruh peserta kelas, namun dosen yang memegang kunci di sini. Keluhan saya adalah, materi kuliah entah seberapa banyaknya bila perlu dapat menyentuh kehidupan peserta kelas, agar terpancing, dan kemudian turut menyumbang bicara. Bicara seru di sini ibarat kita bicara ghibah tentang seseorang (ini tidak disarankan) dalam tongkrongan, namun sangat seru, karena masing-masing peserta tongkrongan memiliki wawasan fresh, menarik, dan baru mengenai objek ghibah. Bedanya disini adalah, wawasan-wawasan tersebut berupa permasalahan yang berkaitan dengan mata kuliah yang perlu diperoleh dari banyak sumber, dan semakin seru ketika masing-masing dari kita saling memperkaya informasi. Dari banyaknya dosen yang mengajar saya, banyak metode pembelajaran dari mereka yang kurang cocok bagi saya. Saya paling menyoroti mereka dalam cara mereka menyampaikan informasi, karena ini kunci dari kucuran informasi kepada diri saya. Saya akui, terkadang saya inisiatif, namun saya mendambakan suatu sosok yang dapat membukakan pintu-pintu wawasan baru bagi diri saya, yang saya harapkan dari kepiawaian serta kharisma dosen saya. Mereka, entah bagaimana saya jadikan panutan, karena mereka berwawasan luas, sedangkan proses belajar itu lekat dengan cerita-cerita kesulitan. Saya selalu berfikir bahwa mereka mampu melewati itu semua, demikian juga saya, agaknya dapat demikian, tapi tidak tahu juga, haha. Kenyataannya, saya justru hingga detik ini mengeluhkan alih-alih bersemangat. Banyak dari dosen-dosen saya kemarin tidak memuaskan orgasme akademis saya. Saya merasa seperti hilang kendali, dan dilepas begitu saja. Pasalnya, saya tahu, terkadang saya butuh pemicu terlepas dari kesadaran dalam merdeka belajar. Menuju titik puncak kenikmatan dari belajar itu, terkadang diperoleh dari orang lain. Singkatnya, seluruhnya menjadi pesan yang bergerumul lalu lenyap, sunyi, kosong tak berbekas pada akhirnya.

Narasi ini mungkin nggak sih dikira sebagai pernyataan mahasiswa ambis? Ambis adalah ambisius. Banyak tipe-tipe mahasiswa ambis yang nyebelin di base-base kuliah Twitter. Apakah saya adalah lolos kriteria itu? Nggak tahu juga, tapi let's to be transparent kalo saya sering dikatakan demikian. Story media sosial saya lekat dengan buku-buku, perkuliahan dan semacamnya. So, sah-sah aja muncul berbagai persepsi mengenai diri saya. Namun, informasi ini saya rasa ada kurang pentingnya bagi hidup pembaca yang budiman. Saya terbuka untuk segala jenis persepsi, hal itu wajar karena muncul dari pertimbangan-pertimbangan yang terjadi dalam diri kawan-kawan sekalian. Jika dibilang sebagai orang ambisius, well, bisa. Saya hanya berangkat dari sebentuk tanggung jawab yang sudah menjadi milik diri saya, dimana saya merasa butuh terhadap semacam hal-hal yang mendukung tercapainya tujuan saya. Lain hal sisanya adalah kesenangan-kesenangan yang saya miliki dalam proses studi ini, belajar selain menyelesaikan tanggung jawab saya, membuat saya merasa sedikit terpuaskan atas hal-hal yang mengisi rasa penasaran saya, atau bahkan saya merasa dibuat bahagia dengannya.

Pic from The Atlantic.

Komentar

Postingan Populer