REVIEW JURNAL-JURNAL UNTUK JUDUL PENELITIAN "JALUR SUTERA: PERSENTUHAN AGAMA BUDDHA DI ASIA TENGAH PADA ABAD 3 SM-7 M
ESAI BUDDHISM IN CENTRAL ASIA (BUDDHISME DI ASIA TENGAH) oleh BINDU URUGODAWATTE (Studi Regional Kawasan Asia Timur Universitas Harvard)
Esai yang langsung menjurus kepada kehidupan agama Buddha ini ditulis setebal 21 halaman, mulai dari pengantar mengenai kawasan Asia Tengah, bahasa yang digunakan di region ini, agama-agama yang pernah eksis di kawasan ini hingga ke inti bahasannya, yaitu rekonstruksi kehidupan agama Buddha melalui penelitian secara arkeologis oleh para sarjana. Seperti efek domino yang populer untuk doktrin komunis, pengaruh agama Buddha juga merembet ke wilayah regional tetangga asal kemunculan agama filsafat tersebut, dari Asia Selatan bergerak ke utara, yaitu Asia Tengah. Agama ini yang diadopsi oleh Kerajaan Magadha kemudian mendapatkan legitimasinya untuk disebarkan ke seluruh wilayah yang memungkinkan, pencapaiannya ke Asia Tengah, Asia Timur hingga Asia Tenggara. Kerajaan Magadha yang kala itu dipegang oleh Dinasti Maurya, memiliki pemimpinnya yang suportif terhadap perembangan agama ini, yaitu Raja Ashoka. Utusannya, Majjhantika dikirim ke Asia Tengah, tepatnya di daerah Gandhara dan Kashmir, ia menunjukkan keajaibannya dalam melindungi penduduk setempat dari banjir dan hujan es batu yang disebabkan oleh Raja Naga dari Gandhara, menurut kronik Mahawamsa, Raja Gandhara kemudian berhasil dikonversi menjadi pengikut agama Buddha oleh Majjhantika. Kisah ini menjadi catatan tertua, dimana Asia Tengah mendapatkan sentuhan agama Buddha. Selanjutnya, Buddha diterima oleh masyarakat dan juga kerajaan-kerajaan asli Asia Tengah seperti Greko-Baktria, Kushan, Sogdiana, Sasania, Qiusi dan lain sebagainya yang berdiri di sekitar abad ke 3 SM hingga memasuki millennium awal masehi.
Rekonstruksi arkeologis meliputi penemuan dan penggalian artefak peninggalan wujud kebudayaan Buddha, seperti biara, kotak penyimpan peninggalan, pot, tembikar, stupa, kuil, patung, kota kuno, spanduk, gua kecil, sekolah Buddha, serpihan batuan, lukisan, dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat catatan perjalanan yang ditulis oleh pendeta di suatu perjalanan, catatan dari raja, buku teks puitis, naskah Buddha dimana terdapat praktik ajaran dan ritual Buddha, keadaan spiritual masyarakat awam, cerita-cerita dengan beragam bahasa dan lain sebagainya. Melalui berbagai manuskrip yang ditinggalkan itu, para sarjana tercerahkan oleh kehidupan sosial masyarakat setempat, yang dalam hal ini seperti pendeta yang memainkan peranan penting dalam penyebaran agama Buddha, seperti melakukan terjemahan naskah-naskah, menulis catatan perjalanan, mengoperasikan sekolah-sekolah Buddha, dan lain sebagainya. Kemudian, komunitas Buddha juga terjalin berkat lancarnya komunikasi di antara masyarakat lokal dan masifnya pembangunan bangunan bercorak Buddha di regional ini disebabkan karena upaya menggapai Nirwana. Hal-hal tersebut menandakan agama Buddha mengubah tatanan hidup masyarakat setempat, dengan awalnya memeluk agama Zoroatrianisme, Manichaisme, dan Kristen Nestorian menjadi agama Buddha. Dari keempat agama yang eksis pada periode kuno di Asia Tengah, salah satu yang paling berpengaruh adalah agama Buddha dengan sedemikian banyaknya bukti arkeologis yang saat ini dan yang belum ditemukan.
Kelebihan yang dimiliki artikel ini yaitu penulis memiliki perbendaharaan kata yang pas untuk orang awam seperti mahasiswa, masyarakat umum dan sebagainya. Artikel diberikan gambar-gambar yang mampu menjawab rasa penasaran terhadap visualisasi materi yang sedang dibicarkan, dalam hal ini, penulis menyertakan gambar patung-patung Buddha, Gua Bezeklyk di Turfan, stupa di daerah Subashi, pahatan Shotorak, dan lain sebagainya. Selanjutnya, artikel memiliki kerangka tubuh yang sistematis, pembahasan mulai dari hal umum ke yang khusus, seperti pada bagian awal terdapat pengenalan kawasan Asia Tengah, disusul oleh paparan hasil penelitiannya yang membahas penemuan-penemuan arkeologi di setiap negara Turkistan. Di setiap negara tersebut kemudian dibagi lagi menjadi sub-bagian yang membahas setiap situs Buddha di setiap negara. Dengan penyusunan tulisan seperti ini, pembaca tidak dibuat bingung mengenai lokasi suatu situs di suatu negara dan lebih lanjut memudahkan penyerapan informasi bagi pembaca.
Hal yang menjadi kekurangan dari artikel ini yaitu terdapat pada temuan naskah-naskah Buddha yang hanya berupa judul naskahnya saja, seperti naskah Maitreyasamiti-Nataka, Anavatapta-gatha, Khadgavisana, dan lain sebagainya, perlu sedikit ringkasan mengenai inti isi dari naskah tersebut, sehingga dapat lebih memperkaya khazanah pengetahuan pembaca. Selanjutnya, tulisan menyinggung sedikit mengenai sekolah Buddha yang ditemukan pada kompilasi naskah dan juga naskah yang ditemuan pada suatu sekolah Buddha. Sekolah merupakan media vital untuk misi penyebaran agama Buddha, namun penulis luput menjelaskan mengenai kehidupan pendidikan Buddha di kawasan ini, sehingga perlu adanya untuk menambahkan informasi pendidikan agama Buddha.
***
QADIMISME VERSUS JADIMISME DAN
DINAMIKA ULAMA DI ASIA TENGAH oleh AH.FAWAID (ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman
STAIN Pamekasan)
Jurnal
ini secara khusus membahas munculnya dua pemikiran Islam baru di tengah
masyarakat Asia Tengah, yaitu Jadidisme dan Qadimisme. Jadidisme merupakan
kelompok yang merespon adanya modernistas di seantero dunia, sedangkan
Qadimisme memegang ajaran lama untuk dipertahankan. Kedua alur pemikiran yang
berbeda itu dipegang oleh ulama-ulama di Asia Tengah, dan kedua kelompok
pemikiran tersebut mengalami gesekan mengikuti keadaan sosial-politik yang
berkembang di region ini. Keduanya saling melihat secara negatif, Jadidis
memandang Qadimis sebagai sosok yang kolot, tak paham dengan perkembangan
dunia, sedangkan Qadimis memandang Jadidis sebagai sosok yang liberal, sekuler,
merusak agama, misionaris dan lain sebagainya. Jadidisme dan Qadidisme ini
tumbuh dan berkembang saat dunia mengalami modernitasnya, yaitu sekitar abad ke
19 dan ke-20. Namun sebelum sejauh ini, umat Asia Tengah memiliki sejarah
persentuhan dengan agama Islam sendiri yang juga dibahas pada bagian awal
jurnal ini.
Islam masuk ke Asia Tengah melalui
serangaian upaya pembebasan daerah-daerah di kawasan ini pada 1 Hijriah, tepat
pada kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab melalui sahabatnya Hudhayfah bin
al-Yamani pada 638 M. Selanjutnya, hingga tahun 644 M, pengaruh Islam sudah
sampai Armenia dan Georgia, lalu meluas lagi hingga ke Khurasan, Dailam, dan
Thabaristan di bawah kepemimpinan Al-Ahnaf bin Qais. Berikutnya, tentara
pembebasan Islam kemudian masuk ke Azerbaijan menuju Asia Tengah pada 712 M di
bawah pimpinan Qutaybah bin Muslim. Sahabat Khalifah Umar, Al-Hakam bin Amr
al-Ghifari kemudian menyeberangi Sungai Oxus untuk pembebasan Sogdiana,
pembebasan di kota lain dilanjutkan oleh Ubaid Allah bin Ziyad di kota Bukhara
dan Bikand pada 674 M, Said bin Uthman kemudian membebaskan kota Samarkand
hingga pembebasan berakhir di bawah pimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Pembebasan daerah-daerah ini sudah barang tentu dibarengi dengan dakwah, agar
ajaran-ajaran Islam dapat diterima oleh masyarakat. Islam sudah sepenuhnya
menguasai Asia Tengah pada masa ini, yang mana ajaran-ajaran Buddha sudah harus
ditiadakan. Semasa pembebasan wilayah Asia Tengah oleh tentara pembebasan Islam
inilah banyak dari bangunan-bangunan Buddha yang rusak, terbengkalai karena
doktrin Islam merasuk pada masyarakat, dan juga dialihfungsikan kepada hal yang
tak semestinya. Islam menandai merosotnya pengaruh agama Buddha yang sempat
berjaya selama satu milenium lamanya.
Kelebihan dalam tulisan ini adalah
perkembangan Islam digambarkan secara komprehensif oleh penulis. Penulis
memberikan informasi kedatangan Islam tidak hanya di Asia Tengah, namun sampai
wilayah pembebasan terluasnya. Kemudian, kolonialisasi Imperium Rusia dan
pengaruh komunis Uni Soviet juga turut disertakan, yang mana berpengaruh pada
kemunculan pemikiran Jadidisme di kalangan para ulama. Hal-hal tersebut
memudahkan pembaca untuk memahami hal secara kronologis, dan berkesinambungan.
Kekurangan dalam tulisan ini yaitu
adanya ketimpangan bahasan antara Jadidisme terhadap Qadimisme. Tulisan ini
cenderung memihak kepada alur pemikiran Jadidisme. Ada beberapa aspek dari
pemikiran Qadimisme yang tidak disertakan secara seimbang sebagai pembanding
dengan alur pemikiran Jadidisme, seperti bagaimana persisnya menjaga agama yang
dilakukan oleh para Qadimis, bagaimana respon Qadimis terhadap kemunduran
ekonomi Volga-Tatar, bagaimana persisnya produk pendidikan tradisional yang
masih dipegang oleh para Qadimis, dan sebagainya. Penulis perlu membandingkan
secara fifty to fifty agar jelas dan
seimbang perbandingannya.
***
THE SILK ROAD IN HISTORY (JALUR SUTERA DALAM SEJARAH) oleh DANIEL C. WAUGH (Koleksi State Hermitage Museum, St.Petersburgh)
Jalur Sutera merupakan suatu kawasan perhubungan antara dunia Barat dan Timur yang eksis sejak abad ke 4 SM hingga abad ke 16 M. Memang, pada awalnya jalur ini dibuka untuk keperluan perdagangan dari peradaban besar Tiongkok hingga ke Imperium Roma, di Eropa. Salah satu bukti yang terkenal dalam perkembangan awal sejarah dibukanya Jalur Sutera ini berasal dari Dinasti Han yang mengutus Zhang Qian pada abad ke 2 SM dalam pembukaan hubungan dagang dan kepentingan politik kekaisaran ke wilayah sebelah barat Dinasti Han. Ia melihat di daerah Asia Tengah seperti Ferghana, sudah terdapat berbagai macam produk dari Tiongkok, yang ternyata berasal dari pedagang India sebagai pembawanya. Padahal, jalur perdagangan ini sudah mulai dibentuk oleh orang Hu, sejak abad ke 4 SM, dan sutera sudah dibudidayakan disana. Jalur Sutera ini meliputi perdagangan daratan dan maritim, dengan pelabuhan di pantai timur Tiongkok, Samudera Hindia, hingga mencapai Teluk Persia di Timur Tengah.
Jalur Sutera kemudian berkembang, selain sebagai pertukaran artistik melalui komoditas perdagangan antar bangsa, kemudian terjadi penyebaran dan percampuran agama yang didukung oleh dinamika politik masyarakat di sepanjang jalur ini. Penyebaran agama ini disebabkan terjadinya interaksi antara bangsa-bangsa pendukung perdagangan. Selain Dinasti Han, Makedonia, Kekaisaran Roma, Kerajaan Magadha dan Kehalifahan Islam, suku-suku pengembara juga meramaikan jalur ini, baik menginvasi daerah baru maupun dalam pemenuhan kebutuhan mereka sendiri. Suku-suku ini seperti Yuezhi, Xiongnu, Skitia, dan lain sebagainya. Asia Tengah kemudian mendapatkan pengaruh-pengaruh dari agama yang diadopsi oleh kerajaan, mulai dari Zoroatrianisme, Manikeisme, Buddha, Kristen, dan Islam dengan jalur difusinya tersendiri. Selain melalui jalur imperium, diidentifikasi pula perhatian pendeta Asia Tengah terhadap linguistik nasah-naskah keagamaan semasa suatu agama berkembang di region ini, kemudian pembangunan bangunan keagamaan, seperti gereja-gereja yang dilakukan oleh misionaris Kristen Roma, pembangunan kuil, sekolah, biara oleh pendeta Buddha, dan lain sebagainya.
Jalur Sutera sebagai kawasan semua bangsa kemudian jatuh kepada kekuasaan Islam, saat Kekhalifahan Abassiyyah dan Umayyah bersama penaklukannya, lalu dilanjutkan dengan invasi bangsa Mongol oleh Jenghis Khan. Pemberitaan invasi yang merusak oleh bangsa Mongol ini kemudian diselingi oleh bukti-bukti bahwa mereka juga masih mewariskan perdagangan, seperti pertukaran pengrajin ke daerah lain, perdagangan komoditas artistik hingga produk-produknya digunakan oleh penguasa Ottoman dan Safavid dalam kuil dan istana mereka, sentra produksi alat kerajinan juga masih beroperasi kala itu di Samarkand dan Herat, namun kemudian pergolakan politik berpengaruh buruk terhadap jalur ini. Penemuan jalur ini kemudian juga diinformasikan dalam tulisan ini melalui penelitian pada akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20 oleh sarjana Barat, seperti Sven Hedin dari Swedia (1880 an), Aurel Stein dari Hongaria (1907), Paul Pelliot dari Perancis, eskplorasi Rusia dan Jerman. Kemudian, eksplorasi sempat dihentikan oleh penguasa Tiongkok, karena artefak-artefak yang ditemukan dibawa ke negara asal para penjelajah tersebut. Penjelajahan kembali dilakukan oleh arkeolog Tiongkok dan Rusia kemudian. Penelitian ini menemukan artefak kota-kota di padang rumput, teks-teks berbahasa Turki, pengungkapan kekayaan elit Xiongnu, ekskavasi pertama ibukota Karakorum, penemuan benda arkeologi maritim yang menjelaskan perdagangan maritim yang terjadi di Eurasia sejak Zaman Perunggu hingga bangsa Barat memulai imperialisme dan kolonialismenya pada abad 15.
Kelebihan tulisan ini yaitu artikel ditulis ke dalam rupa yang artistik, penulis tampaknya mendesain kertasnya dengan memberikan warna selain warna bawaan kertas (putih) agar tampilan tidak membosankan. Gambar-gambar juga turut diberikan untuk menunjang rasa ingin tahu akan visual dari materi yang dijelaskan. Kemudian, grafik periodesasi memberikan pembaca kemudahan untuk memahami peristiwa secara kronologis. Tampilan esai seperti sebuah majalah, dimana tidak seperti karya tulis ilmiah yang terkesan kaku dan membosankan. Bagi pecinta seni, hal ini dapat menjadi nilai plus bagi penulis. Selain itu, terdapat peta dengan kualitas gambar yang baik serta legenda yang lengkap, sehingga pembaca dapat lebih mudah dalam mengidentifikasi nama-nama situs yang terkadang juga merupakan nama kota kuno dan nama daerah pada periode saat ini.
Kekurangan dalam tulisan ini yaitu, penulis merupakan seorang profesor yang sudah tampak biasa menggunakan bahasa ilmiah tingkat tinggi, dan juga terdapat penambahan sedikit kalimat satir di dalamnya. Bahasa yang saya maskud, apabila dilihat dari kacamata orang awam akan sulit diterjemahkan ke dalam gramatikal yang baik dan benar, sehingga, tulisan akan sulit dipahami.
Komentar
Posting Komentar