MATERI SEJARAH ASIA SELATAN PERIODE LAMA HINGGA BARU - SENIN, 9 NOVEMBER 2020

 Oleh: Reza Febri Pratama (190110301061/Kelas A)

Peradaban Asia Selatan berada di anak benua India dan sekitarnya. Saat ini, region Asia Selatan terdiri dari negara India, Afghanistan, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Bhutan dan Srilanka. Kehidupan awal masyarakat Asia Selatan berada di lembah sungai Indus yang muncul sekitar 2500 SM. Faktor geografis lembah sungai Indus yang subur dan dialiri air sungai mendukung munculnya kehidupan di kawasan ini. Lembah yang berkembang dari kehidupan pedesaan kemudian membentuk kota di sekitaran lembah ini seperti Mohenjodaro yang saat ini berada di Provinsi Sindh, Pakistan dan Harappa di daerah Punjab, Pakistan. Masyarakat pendukung peradaban ini merupakan bangsa Dravida. Namun, setelah eksodus bangsa Arya dari utara pada 1500 SM, bangsa ini membubarkan diri dari lembah sungai Indus dan bergeser menuju selatan, sedangkan bangsa Arya membentuk peradabannya sendiri di lembah sungai Gangga. Salah satu hal yang mencolok dari peninggalan peradaban ini adalah tata kotanya yang berkarakter kompleks, yang mengherankan ahli sejarah dan arkeolog terhadap masyarakat kuno yang sudah memiliki perencanaan pembangunan yang matang. Peradaban selanjutnya merupakan peradaban sungai Gangga yang digagas oleh sebagian besar bangsa Arya dan sebagian kecil lagi oleh bangsa Dravida, peradaban inilah yang memunculan nama Hindhustan setelah melahirkan agama Hindu dan Buddha dengan masyarakat Hindu di daerah Sindh itulah maknanya. Pada masa Brahmana inilah terjadi pengkastaan diantara masyarakat India, dimana bangsa Arya tidak ingin bercampur dengan bangsa Dravida, dan mereka merasa superior. Kemudian muncullah periode agama Buddha sebagai respon dari tindakan dominasi kaum Brahmana itu kemudian disusul oleh lahirnya agama Hindu pada 300 SM yang ajarannya berasal dari kitab Weda. Agama-agama ini kemudian dianut oleh masyarakat dunia sampai sekarang.

Kemudian baru berdiri kerajaan-kerajaan di anak benua ini seperti Kerajaan Gandhara, Kosala, Kasi dan Magadha. Namun, kerajaan Magadha lah yang paling berpengaruh.  Kerajaan ini sepanjang keuasannya dari abad ke 7 hingga abad 1 SM terdiri dari beberapa dinasti, seperti Sisunaga yang kala itu menyumbangan kontingen tentara dalam angkatan bersenjata Persia, kemudian dinasti Nanda yang terkenal karena kebijakannya membebani rakyat serta perlawanan terhadap pasukan Alexander The Great pada abad ke 4 SM. Dinasti Nanda kemudian diruntuhkan oleh Candragupta dan membentuk Dinasti Maurya. Dinasti ini menjalin hubungan dengan kerajaan Hellenistik peninggalan Alexander, yaitu Seleukia, hal itu dibuktikan dengan pernikahannya dengan putri Seleucus, kemudian Candragupta diteruskan oleh Bindusara dan kemudian Asoka yang terkenal dengan pembangunan agama Buddhanya. Selanjutnya Dinasti Sungha yang mencolok pada pembangkitan agama Hindu kembali oleh pendiri dinastinya, Pushamitra, lalu datang Vasudewa sebagai perdana menteri kerajaan yang mengambilalih kekuasaan dan membentuk Dinasti Kanwa. Dinasti ini kemudian hancur oleh serangan Kerajaan Andhra hingga 28 SM.

Estafet kedinastian kemudian diberikan kepada kerajaan-kerajaan India Hellenis, seperti Greko-Baktria dan Kushan. Hellenisasi anak benua India dilakukan melalui cara penyerbuan hingga mereka menetap di dataran Punjab. Pada masa ini, agama Buddha sangat diperhitungkan karena, banyak penguasa Yunani yang pada akhirnya memeluk agama Buddha, seperti Menander dari Greko-Baktria dan Kanishka, keturunan Kadphises yang memerintah Kushan pada abad ke-2 SM. Buddha juga mengalami pembauran dengan kepercayaan lain pada masa ini seperti dari Hindu, kepercayaan primitif, Zoroaster dan Kristen. Selanjutnya, merupakan kekuasaan Kerajaan Gupta dan Harsha. Kerajaan Gupta hidup pada abad ke-4 SM dengan pemimpin terkenalnya yaitu Samudragupta dan Candragupta II, mereka membawa kerajaan pada masa keemasan ketika Samudragupta yang disebut sebagai Napoleon dari India memiliki modalnya yang disebut Digvijaya (penaklukan ke arah 4 mata angin) serta perkembangan kebudayaan (kesenian, sastra dan ilmu pengetahuan berbahasa Sansakerta. Kerajaan Harsha kemudian meneruskan kekuasaan di India. Harsha Vardhana memimpin kerajaan ini pada abad ke-7 M dan melaksanakan serangkaian penaklukan. Penaklukkan ini membuat dirinya dijuluki sebagai “Penguasa Lima Negara” yang meliputi Punjab, Kanauj, Benggala, Mithila dan Orissa.

Kawasan India Selatan atau Tamilakam juga terdiri dari berbagai kerajaan seperti Kerajaan Pallava, Chalukya dan Chola. Dinasti Pallava merupakan penggerak dari Kerajaan Tondamandalam yang berdiri dari abad ke 5 hingga ke 8 M. Dinasti ini mendapatkan kemajuannya pada masa pemerintahan Narashimavarman dengan penaklukannya ke Ceylon, Chalukya dan Chola. Dinasti ini memberi peninggalan yang berarti pada masyarakat India seperti kesenian (seni sastra) dan arsitektur dengan dibangunnya banyak kuil monolith. Kerajaan Chalukya selanjutnya yang dipimpin oleh Pulekesin II (7 M)  mengalami kemajuan di bidang maritim dengan perdagangannya yang meluas hingga ke Nusantara, kemudian armada lautnya yang kuat menggempur musuh. Terakhir adalah Kerajaan Chola yang berkuasa sejak abad ke 10 M. Kerajaan ini memiliki kebijakan serupa yaitu memperluas kekuasaan dengan penaklukan serta perdagangan maritim, Chola mengadakan hubungan kerjasama dengan Kerajaan Sriwijaya di Nusantara yang sama-sama merupakan kerajaan besar.

Asia Selatan kemudian memasuki babak sejarah baru yaitu proses Islamisasi. Dinasti Umayyah yang kala itu dipimpin oleh Khalifah Al-Wahid ibn Abdul Malik di bawah panglima Muhammad ibn Al-Qasim berhasil merangsek masuk ke Sindh dan Punjab. Pasukan mereka ini mengawali masuknya Islam di anak benua India. Penaklukkan-penaklukkan terus dilanjutkan oleh dinasti berikutnya sepperti Abasiyyah, oleh Khalifah Al-Mansyur pada 754-775 masehi. Islam dalam politik baru masuk pada masa pemerintahan Dinasti Ghaznawiyah yang berada di Afghanistan, di bawah Sultan Mahmud pada abad ke 10-11 M, sultan kemudian mengambil alih hampir seluruh wilayah Hindhustan yang berada di India Utara. Dinasti Ghuri kemudian melanjutkan tampuk kekuasaan yaitu sekitar abad ke 10 hingga 13 masehi. Dinasti Ghuri mengenal sosok terkenalnya yaitu Sultan Mu’izuddin Muhammad Ghuri yang melakukan banyak peperangan dengan Dinasti Ghaznawiyah dan persekutuan antar raja Hindu seperti Prithvi Raj III dan Chamana. Selanjutnya, India kembali dikenal pada kekuasaan Kesultanan Delhi yang terdiri dari enam dinasti, mulai dari Budak/Mamluk, Khilji, Tughlaq, Sayyid, Lodhi dan Suri. Kesltanan Delhi berkuasa dari abad ke 13 hingga 16 masehi di India.

Kekaisaran Mughal merupakan imperium yang berkuasa di India selanjutnya. Kekaisaran ini mengenal Zhahiruddin Babur (1526-1530) dalam upaya pembentukannya, ia berasal dari Ferghana, Asia Tengah dan melarikan diri ke India dan melakukan penyerangan terhadap pemerintahan Ibrahim Lodhi, kemudian memutuskan kota Agra sebagai ibukota pemerintahan Mughal. Kekuasaan bergilir pada Nashiruddin Humayun (1556), sewaktu kekuasannya, Mughal pernah diserbu oleh Syr Syah dan dapat merebut India kembali dengan bantuan Iran. Jalaludin Akbar merupakan raja yang ketiga (1605), ia menerapkan sejumlah kebijakan untuk unifikasi India, seperti melalui perkawinan politik, peperangan dan pendekatan toleran terhadap umat Hindu. Politik pada masa kekuasaan Akbar banyak mengadopsi sistem dari luar, seperti dari Persia dan kerajaan Greko Roman, kemudian terjadi pembauran agama dikarenakan intensnya dialog antar pemuka agama, dalam hal ini dikenal pada Kasus Din-I-Ilahi. Bidang kebudayaan turut diperhatikan, khususnya kesusastraan dengan pengumpulan bahan pustaka filsafat ajaran Hindu, penerjemahan kitab-kitab dan pujangga menghasilkan karya tulis yang bermutu. Keturunan Akbar, Nuruddin Jahangir kemudian menggantikannya, ia merupakan pemimpin yang berupaya melindungi umat Islam dalam serangkaian kebijakannya. Syihabuddin Syah Jehan sebagai salah satu putra Jahangir kemudian menggantikannya, pada masa pemerintahannya inilah perjumpaan awal Inggris dengan India dengan mendirikan “factory” di Masulipatam. Takhta terkahir dipegang oleh Muhyiddin Aurangzeb Alamgir yang pada masa kekuasaannya dihabiskan dengan perang melawan kerajaan India Tengah, namun hasilnya, wilayah India yang membentang dari utara ke selatan berhasil dikuasai oleh kepemimpinan Aurangzeb. Mughal selanjutnya dilanda disintegrasi sepeninggal Aurangzeb.

Imperium Inggris kemudian berkuasa atas India, dimlai dengan aktivitas dagang yang dilakukan oleh English East India Company (EIC). Kongsi dagang ini diberikan hak monopoli di daerah jajahan Inggris. Inggris menempati tiga wilayah seperti Madras, Mumbai dan Calcutta untuk keperluas aktivitas EIC itu sendiri, namun kemudian EIC akhirnya merambah ke arah politik. Robert Clive merupakan peletak kekuasaan Inggris di India, ia menghalau pasukan kulit putih selain Inggris seperti Perancis, Belanda dan Portugis dari India. British India kemudian dibentuk sebagai penanda legal pemerintahan kolonial Inggris di India dengan Warren Hastings sebagai Gubernur Jenderal pertamanya. Urusan politik semakin kompleks ketika masa pemerintahan Lord Welleseley, dimana raja-raja India harus menyerahkan urusan politik luar negeri kepada Inggris, menyerahkan upeti dan lain sebagainya. Sejak abad ke-19, kolonialisme Inggris dinilai masif dan membawa pengaruh yang cukup serius kepada masyarakat India dan Asia Selatan pada umumnya. Kerugian juga ditimbulkan dalam bentuk eksploitasi ekonomi, terlalu ikut campur dalam kehidupan adat masyarakat India untuk memenuhi standar Inggris, hilangnya kemerdekaan dan martabat masyarakat India. Inilah yang kemudian mendasari pergerakan nasionalisme India yang berujung pada merdekanya masing-masing negara nasional di Asia Selatan pada umumnya, seperti Afghanistan pada 1919, India pada 1947, Nepal pada 1923, Sri Lanka pada 1948, Bangladesh pada 1947, Pakistan pada 1947 dan Maladewa pada 1965.

Komentar

Postingan Populer