A Little Piece of Peace
Selamat malam, kawanku. Bertatapnya wajah kalian dengan tulisan ini, berarti kalian sedang menatap wajah lain dari diri saya, hehehe. Selamat datang di blog ini! Saya harap, hari-hari kalian selalu lancar, ya! 😄
Sorry, agak beda nih, ya, gaya kata ganti orangnya, saya biasanya menggunakan gua dan elu seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya. Namun, akan beralih menjadi saya dan kamu pada tulisan ini. Mm, nggak akan sepenuhnya baku dan permanen, sih. Kali ini pure karena nurutin mood aja. 😂✌
Begini. Lama sebelum saya menapak tepat pada kondisi sekarang, saya merasakan diri saya sangat kewalahan untuk sekedar berjalan melewati hari-hari. Kondisi dalam diri yang meliputi perasaan, pikiran, mental, dan bahkan anggota tubuh saya menjadi kacau balau. Saya banyak sekali dipengaruhi hal-hal yang kurang menyenangkan, yang datang dari respon saya terhadap hal-hal tersebut, seperti trauma masa kecil, overthinking saya terhadap pengawasan orang lain, pencapaian orang lain, emosi negatif saya terhadap orang lain, dan lain sebagainya. Hal tersebut datang dari persentuhan saya dengan manusia yang saya kenal, maupun yang tidak saya kenal sama sekali. Suatu ketika, saya dilanda rasa down yang teramat dalam. Saya benar-benar tidak berani menyingkap boroknya diri saya, dan yang paling penting menerimanya. Saya menjadi sangat denial dan hal tersebut membuat saya harus menonaktifkan Instagram selama dua bulan lamanya. Kemudian, film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini pasti terdengar familiar, ya? Saya pernah merasa muak dan tidak tahan dengan suatu adegan dalam film tersebut, yang membuat saya ingin keluar dari studio. Jelas, saya mengaitkan adegan yang dipertontonkan dengan kepribadian diri saya dan saya sangat terserang. Selalunya, saya tidak menyelesaikan pergumulan batin saya hingga tuntas. Mengalihkan perhatian dengan aktivitas lain ternyata tidak benar-benar membantu. Semuanya terendapkan, tanpa jawaban yang jelas.
Dua dekade saya hidup, saya berjumpa dengan diskursus yang diolah oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga dalam karya mereka, Berani Tidak Disukai. Tempo hari saya memiliki keinginan yang lama sekali bertumbuh menjadi niat sungguhan membaca buku ini. Namun alhamdulillah, saya menamatkannya di tengah jadwal kuliah yang teramat padat ini.
Buku Berani Tidak Disukai merupakan buku non fiksi dengan gaya narasi berbeda pertama yang saya temui selama saya membaca buku. Saya mungkin akan menyematkan jenis pengembangan diri pada buku ini. Buku dengan jenis serupa seperti Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson ditulis dengan organisasi narasi yang menyerupai buku-buku pada umumnya, sedangkan buku Berani Tidak Disukai dikemas dengan bentuk percakapan antara seorang filsuf dan pemuda yang kritis namun temperamental.
Saya awalnya agak sinis dengan pemikiran buku ini, lagi, ini muncul karena sikap sinis saya terhadap orang lain. Saya menembak pernyataan tidak mendasar mengenai buku ini, yang awalnya saya berfikir buku ini akan julid, dengan tetap meninggalkan perasaan tidak suka terhadap orang lain, justru merupakan sesuatu yang berkesan bagi saya di penghujung tahun ini.
Buku ini secara umum menjelaskan bagaimana seseorang memiliki pandangan bahwa dunia ini adalah suatu tempat yang sederhana untuk ditinggali. Penulis mengangkat salah satu teori psikolog asal Austria, Alfred Adler--yang juga merupakan mantan murid Sigmund Freud. Salah satu ajaran mendasar yang dimiliki teorinya adalah teleologi, yaitu studi tentang tujuan dari suatu fenomena ketimbang sebab dari suatu fenomena yang terjadi. Aetiologi juga turut disinggung, dimana ajaran ini dimiliki oleh kakaknya, Freud yaitu studi tentang suatu sebab dan akibat. Perjumpaan awal saya dengan teori ini membuat saya terjungkal ketika sang filsuf mengutarakan "tidak ada yang namanya trauma", sedangkan saya merupakan orang yang dapat dibilang sering menggaungkan kata "trauma" tersebut.
Saya akan bilang buku ini membangitkan sumber daya yang saya miliki, namun belum saya sadari. Sumber daya tersebut merupakan kemampuan saya memiliki cara pandang yang bersahabat di tengah kenyataan kehidupan yang demikian adanya. Seseorang tidak bisa tidak bebas dari hubungan interpersonalnya dengan manusia lainnya, dimana mereka saling melukai dan dilukai. Mereka saling merespon keadaan yang tampak pada matanya, dan itu hal yang wajar. Ada standar-standar tertentu yang masing-masing orang lain miliki, dan saya tidak memiliki urusan untuk mengintervensi standar-standar mereka, karena pada kenyataannya adalah mereka memiliki argumen sendiri yang tidak bisa saya tepis.
Trauma yang sempat saya tafsirkan menurut teori psikologi Adler merupakan respon saya yang buruk terhadap kejadian di masa lalu. Respon buruk inilah yang menciptakan iklim tak mendukung bagi perkembangan diri saya, karena lagi-lagi, bayang-bayang perilaku orang lain seakan mengikuti tanpa kenal mundur. Saya sangat menyayangi diri saya yang gagal berkembang karena hal-hal semacam itu. Ketika saya tetap mengurung diri dari peradaban karena pengaruh-pengaruh luar, itu menyandarkan saya pada teori aetiologi, saya tetap bergantung pada kondisi, seandainya tak terjadi sesuatu, maka saya bisa melakukan sesuatu. Namun, masa lalu tak dapat diubah dan saya perlu berubah. Maka dari itu, saya mengenali lagi apa persisnya tujuan saya mengurung diri? Teleologi mengatakan bahwa saya tidak ingin bertemu dengan perasaan luka karena hubungan interpersonal, dimana mungkin terdapat hujatan di luar sana, saya akan ditodong dengan sejumlah sumpah serapah dan makian keji dan perilaku menyakitan lainnya... "Hey, beneran mau diem aja? Masa nggak berani nanggepin? Ingat, kamu sesungguhnya tahu dan menyadari gerak maksudmu melakukan suatu hal, kamu bertujuan baik dan kamu jujur. Kalo dimaki orang? Ya jelaskan maksudmu yang sebenarnya. Kalau masih tetap dihujat? Ingatlah, mereka hanya mengambil alih kekuasaan, supaya menang debat dan argumennya berada di atasmu. It's totally okay, biarkan itu memuaskan ego mereka. Kamu kembali, tetap tegak dalam pendirianmu. Dunia akan tetap berputar seperti ini, pilihanmu adalah terus jalan atau berhenti. Jika terus jalan, kamu mungkin sedang dalam perjalanan menjemput buah kebaikan di depan sana, jika berhenti, kamu sudah pasti kehilangannya."
Saya berangkat dalam proses percakapan seperti itu dalam mengokohkan pijakan, dalam buku ini saya juga menemukan wajah rumah bagi diri saya, dimana saya bisa bercakap-cakap dengan diri saya sendiri yang mengetahui setiap niat yang saya miliki. Saya dapat mengakomodir kenyataan yang saya perbuat, mengenalinya dengan lembut dan memberikan masukkan yang seharusnya tanpa dihujani makian seperti ketika saya bercerita dengan orang lain. Adler kemudian mengemukakan muara dari hubungan interpersonal adalah suatu perasaan sosial yang berhasil dimiliki oleh seseorang. Ini bagian yang melembutkan saya, saya menepis kata musuh dari eksistensi orang lain, bagaimanapun, orang lain adalah teman seperjuangan saya. Saya tidak bersaing dengan mereka, karena hidup bukan merupakan siapa yang lebih unggul dari siapa. Saya tidak mengemban tuntutan orang lain mengenai pantas tidaknya saya terhadap sesuatu. Bertalian dengan itu, sosok filsuf tergambar oleh otak saya sebagai sosok yang arif, teduh, damai, dan bijaksana, tercermin dari gelagatnya merespon segala bentuk komunikasi, salah satunya amarah yang kemungkinan datang dari teman sang filsuf. Saya jelas langsung mengasosiasikannya dengan diri saya, saya ingin menjadi sosok seperti sang filsuf ini. Sang filsuf mengajarkan betapa pentingnya saya tetap berkontribusi terhadap siapapun, sesuai kemampuan saya. Baik orang yang memanfaatkan saya, yang jahat kepada saya, dan beragam sifat manusia yang lainnya. Saya meyakini mereka sebagai sosok yang bertumbuh dan berkembang, dan perilaku buruk apapun yang berada dalam diri mereka lagi-lagi tidak mempengaruhi hidup saya, tugas saya adalah menjadi bernilai bagi orang lain. Bagian ini berkaitan dengan tugas kehidupan saya untuk menjalin hubungan yang mendalam dengan orang lain, tak dilandasi rasa percaya yang bersyarat, namun rasa yakin. Berkaca dari perilaku orang lain, adalah saya sepenuhnya sadar, terdapat tindakan baik dan buruk. Apakah saya akan mengikuti perilau mereka? Lalu, jika saya tahu mereka melakukan tindakan buruk, mengapa saya harus mengikutinya, lalu setara dengan mereka? Tumpuan perubahan baik juga sepenuhnya ada di tangan saya.
Momok hidup saya terdapat pada sebagian besar penjelasan buku ini. Penulis mengatakan tidak mudah mengonversi teori sang psikolog sekaligus filsuf ini ke dalam suatu implementasi percakapan. Namun, saya sangat merasa memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pemuda pada sang filsuf. Saya merasa percakapan mereka berdua tersampaikan secara baik. Buku ini pada akhirnya menyingkapkan hal-hal selain yang saya bahas di atas seperti konsep inferioritas, kompleks inferioritas, kompleks superioritas, hasrat untuk diakui, seseorang bukan sentral dunia, citra buruk dibentuk diri sendiri, tugas-tugas kehidupan, dusta kehidupan, memberi makna pada hidup yang terlihat sia-sia, dan lain sebagainya. Bagian yang paling menyentuh saya adalah bagaimana saya bebas dari belenggu orang lain dan bagaimana saya dapat terus melangkah, berkontribusi bagi orang lain--yang saya ulas pada tiga paragraf di atas paragraf ini-- seraya saya menerapkan konsep-konsep lain yang saya sebutkan di atas. Penulis berhasil membentuk citra filsuf yang memiliki ketenangan penuh, hal ini membantu saya memahami gagasan yang disampaikan.
Saya menjadi lebih fokus terhadap apa yang sedang saya lakukan, kemudian saya akan selalu mempertanyakan esensi dari setiap permasalahan yang saya hadapi, mengetahui duduk perkaranya dan mendapatkan jawaban atas masalahnya. Tentunya, saya perlahan merasa jarang ada selongsong kegelisahan atas tindakan orang lain yang akan ditujukan kepada diri saya, saya menjadi sangat sangat sangat menikmati setiap proses yang berlalu, pelan-pelan dan tetap konsisten. Saya perlahan menegaskan bahwa diri saya bernilai dari respon saya yang sudah mulai tetap baik terhadap orang-orang yang tidak berkompromi, karena sayalah yang membuat sendiri perubahan baik itu, dan tidak menunggu-nunggu aksi dari orang lain.
*pic from Tumblr

Komentar
Posting Komentar