Rumah





Banyak banget waktu luang yang sudah gua pake buat ke sana dan ke mari, baik di internet maupun di real life. Dinamika banget deh, pikiran dan perasaan gua ketika mengamati hal-hal itu, khususnya terjadi dari berbagai macam hal, ya. Satu hal yang pasti membuat hidup gua terganggu adalah kedamaian atau ketenangan hati dan pikiran gua terusik, dilanjut overthinking. Gua generalisir aja deh ya, ketika hal itu terjadi, kebanyakan adalah gua merasa dongkol/gedek/marah/kecewa selebihnya adalah perasaan bersalah, mungkin (?). Gua belum pandai untuk menjelaskan secara lebih spesifik bagaimana penerimaan pikiran dan perasaan gua ketika suatu masalah terjadi, intinya, nggak enak aja dirasa. Also, gua juga nggak ngerti ini tulisan apakah akan mudah dimengerti atau enggak, tapi gua akan coba ungkapkan seenak yang gua mampu.

Umur berkepala dua ke sana itu merupakan masa-masa yang berat, gua rasa. Kalau belum ada pegangan prinsip hidup. Gua belum merasa yakin apakah gua memiliki prinsip atau pegangan hidup tertentu atau belum. Pada dasarnya, di umur-umur ini, awal terjadi banyak hal yang menentukan, let's say quarter life crisis, entah perbandingan kualitas diri, ingin jadi orang lain, membenci diri sendiri, takut kritikan orang lain, kesulitan menerima kesalahan dan lain sebagainya sehingga seonggok tubuh beserta isiannya ini ketika dihantam berbagai macam kesulitan hidup menjadi seseorang yang sama sekali tak berguna, hina dan tak dapat berubah. Oke, beberapa permisalan tadi gua asosiasikan sebagai kesulitan hidup.

Ngomong-ngomong soal krisis seperempat abad, kurang lebih kesulitan yang gua maksud adalah ketika gua masuk fase tersebut (kinda unsure but the signs are real for me). Kesulitan hidup bukan berarti cuma dialami di umur-umur segini, ya. By the way, bicara soal krisis ini, sudah ada kajian ilmiahnya atau buku-buku yang membahas soal itu. Gua juga nggak akan bicara soal krisisnya secara mendalam dan umum, karena penerimaan orang terhadap krisis ini bisa berbeda dan gua juga nggak begitu paham dengan cerita hidup orang lain, atau mungkin kurang lebih sama, lah. Tulisan ini akan membahas seputar hasil berpikir gua dari beberapa waktu yang lalu.

Merasa cukup terseok-seok nggak, sih, untuk sekedar jalan normal di fase ini? Sebuah perjalanan dimana semuanya tampak kayak carawala, atau lagi di tengah Samudera Pasifik, di mana kanan, kiri, depan dan belakang tampak sama. Tapi gua harus terus jalan dan jalan lagi. Ada banyak rasa yang menggelayuti hari-hari gua, takut, kecewa, marah, ragu, iri, bersalah dan lain sebagainya. Seketika, gua mempertanyakan eksistensi diri gua ini sebetulnya untuk apa? Apa yang bisa gua perbuat dan mengapa diri gua kok nggak bisa sebegitu idealnya jadi manusia. Kayaknya pertanyaan-pertanyaan sejenis masih menjadi pertanyaan besar bagi gua, yang jawabannya aja masih gua raba-raba. Melewati hari-hari yang nggak cukup menyenangkan dimana gua terus-terusan menyalahi diri sendiri dan terus-terusan menghamba akan kesempurnaan. Semuanya akan berjalan sangat berat, berat banget. Idup lu kayak nggak ada istirahatnya sama sekali, padahal harapan yang dimaksud akan sangat valid jika jawabannya adalah mustahil. Ya, kesempurnaan itu cuma kata. 

Hidup dalam dunia yang nggak ideal menuntut gua untuk selalu waspada, belajar dari pengalaman. Gua sebagai manusia juga nggak ideal, butuh kesadaran yang utuh untuk mengerti hal tersebut. Tempat dimana gua berkubang terkadang berisi hal-hal yang ada di luar kendali gua. Selebihnya, masih berada dalam kendali. Satu contoh pemandangan, dimana gua merasa sangat tinggi secara kualitas dan seolah-olah dapat menghakimi orang lain, atau, ketika gua mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai harapan gua: penolakan, pengkhianatan, kegagalan dan lain sebagainya. Berat bagi gua untuk melewati hal tersebut. Akan ada sesi overthinking dimana gua menghakimi diri gua sendiri dalam pertanyaan-pertanyaan yang nyembul dalam pikiran gua. 

"Lu nggak menarik jadi orang."

"Bisa-bisanya lu punya pikiran buat ngasih hipotesa kalo si F bakal kalah lomba? Jago analisis lu, ya, analisis sotoy. Punya lu se keren apa, sih?"

"Siapa elu bisa berharap buat dihargai orang?"

"Lu kenapa, sih, nggak bisa apa lebih sedikit kalem, banyak bacot anjing, kaga ada aksi."

"Salah banget ya gua buat nuntut bales investasi kebaikan yang udah gua kasih ke orang?"

dan banyak lagi.

Pertanyaan-pertanyaan di atas cukup berpengaruh untuk mengganggu mental gua jika tidak segera disikapi. Gua cukup punya krisis kepercaya dirian yang kuat, dimana kontrol orang lain menghantui hidup gua. Gua pada awalnya selalu menganggap bahwa diri gua adalah suatu entitas yang selalu menghalalkan tindakan mengalah untuk permasalahan tertentu, biar hidup gua nggak tambah K.O aja, atau gua depressed ketika gua merasa terkalahkan dalam upaya pembelaan hak gua secara manusia,  karena belum cukup punya seni untuk menghadapi suatu upaya pengambilalihan kekuasaan oleh orang lain. Padahal sejatinya, suatu permasalahan tidak dibawa ke ranah adu argumen, dan nggak perlu merasa menjadi paling bobrok dan hina karena kalah. Karena memang sejatinya tak ada kompetisi.

Gua mau nggak mau harus menemukan cara untuk tetap jalan dalam keadaan yang serba tidak pasti ini. Tidak ada pilihan untuk tetap mengisolasi diri dari peradaban, yang merupakan akar dari permasalahan, supaya terhindar dari hebatnya permasalahan. Hal itu tidak membawa gua kemana-mana. Gua mulai belajar menempatkan diri gua untuk menjadi seorang pembelajar bagi diri gua sendiri, dalam hal ini, buku memberikan gua arahan untuk mengenal potensi yang diri gua punya. Gua akan selalu merekomendasikan kepada siapa saja untuk baca buku. Buku menguatkan gua, buku bisa dibilang menyelamatkan ketidakpastian pandangan gua. Gua bertumpu pada diri gua di setiap situasi dan kondisi yang gua lalui, bukan teman atau keluarga. Dalam kondisi yang serba tak ideal inilah, gua perlu awas terhadap diri gua sendiri untuk berlakulah sewajarnya dan masuk akal. Beserta niat yang lurus dan jujur. Bersiap diri untuk menghadapi tantangan, mungkin gua akan melakukan kesalahan kecil sampai fatal atas diri gua sendiri, atau bahkan di depan sana ada orang lain yang siap nginjek-nginjek gua. Gua tetap mengenali hal itu sebagai sesuatu yang dapat terjadi. 

Gua membentuk wajah rumah bagi diri gua sendiri, sebagai sosok lain, yang dengannya, gua dengan wajah muram, atau dengan tangis pilu, pulang membawa keluh-kesah dan segala bentuk rasa yang ada dalam diri gua, yang dapat selalu memberi semangat, mengingatkan akan ajaran dari buku-buku yang menguatkan, menceritakan bahwa di luar sana ada orang-orang besar yang juga pernah sama susahnya bahkan lebih hancur daripada gua, yang akan selalu mengerti dan mau menerima dan memaklumi segala bentuk kesalahan, yang akan selalu mau diajak untuk menjemput solusi, yang terus akan mengingatkan akan mimpi-mimpi besar yang harus digapai, yang tak pernah sama sekali marah dan menghakimi dan yang paling penting, yang selalu mengingatkan bahwa gua adalah seorang manusia biasa.

Untuk hari-hari yang akan berat karena banyak umpatan, sumpah serapah dan cacian dari orang lain yang siap menodong ke arah lu... nggak papa. Ini bagian lain dari hidup yang jauh dari sempurna. Lu adalah sosok yang berharga, bagaimanapun tingkah orang, lu adalah diri lu sendiri dan lu terlepas dari orang-orang itu. Lu adalah orang yang tau caranya untuk berpikir dalam bersikap, jangan pernah terbawa suasana, tetap ingat pegangan lu, dan kalau masih susah untuk pulih, it's okay, kendurin semuanya, take your time untuk berpikir itu sampai lu pada akhirnya tau sendiri ujung pangkal dari permasalahan lu. Lu selalu punya alasan untuk apapun, itulah yang membuat lu bukan cuma seonggok badan tanpa akal. Lu bisa lakukan hal-hal dengan cara yang baik.

Gua tau, lu bukan sosok yang nyaman-nyaman aja dengan sifat buruk lu. Gua akan selalu ada untuk lu terbuka dan mengakui itu semua, gua selalu tau upaya lu untuk memperbaiki itu semua. Gua selalu tau, lu merupakan orang yang nggak nyaman-nyaman aja bersama dosa lu. Ketika keberadaan gua nggak ada saat lu kepalang lupa daratan, jangan lupa, gua melekat dalam diri lu.

Gua akan selalu ada dalam tangis dan bahagia lu, karena gua adalah sosok yang juga hidup bersama lu. 

Sedikit gambaran dari percakapan gua dengan sosok yang selalu ada ketika gua pulang. Dia hadir dalam catatan, kadang dia juga hadir dalam perasaan dan ungkapan.

Komentar

Postingan Populer