Menulis Efektif, Sebuah Opini
Halo!!! Gua balik lagi setelah berbulan-bulan madol karena males. Sumpah, deh, males banget. Aktivitas nulis ini berat gua lakuin karena... hubungan gua sama laptop itu sebagian besar berkaitan dengan tugas , kalo nggak ya nonton film buat ngilangin penat karena nugas seharian.
Anyway, baiklah, gua berupaya sebisa mungkin untuk mengisi waktu luang dengan nulis selain membaca buku. Malam ini sebetulnya gua nggak ngerti mau nulis apa, tapi gua akan berusaha untuk nulis aja, deh. Apapun, apa yang terlintas di benak, gua tulis.
Gua berupaya nulis senatural mungkin, dengan perbendaharaan kata yang gua punya. Karena suatu saat ketika gua melihat tulisan gua yang a bit ndakik-ndakik, honestly, gua agak-agak geli sendiri karena, ya... sebetulnya poinnya A, tapi gua harus ke L, X atau G dulu buat sampai ke sana dengan kata-kata yang gua sembarang comot, asalkan itu terdengar estetik atau ilmiah, gitu. Ahaha, sebetulnya kaga nape, sih. Hal-hal kayak begini gua tengarai sebagai suatu cara untuk mengenal kosa kata baru yang bersifat demikian. Walaupun penggunaannya memang harus gua ketahui betulan dan sesuai hajatnya. Ketika gua mikir begini, gua juga berfikir untuk pandai menyediakan kosa kata yang tepat ketika berbicara dengan beberapa jenis orang yang tingkat kemampuannya berbeda.
Menulis merupakan self-cure buat gua pribadi, dimana gua berupaya untuk senyaman mungkin mengenali setiap aliran rasa yang ada di benak dan pikiran gua. Kemudian gua tuliskan itu di catatan dan pastinya gua baca. Ada yang melakukan hal yang sama, nggak? Atau ada yang masih nulis diary, mungkin? Penting banget untuk mengurai persoalan ke dalam tulisan, biar rinci dan terlihat secara lebih jelas, apa yang sebetulnya benak dan pikiran gua ingin katakan.
Gua juga berupaya menjadikan aktivitas membaca menjadi hobi gua saat kuliah. Dari kecil emang gua udah demen baca, tapi entah kenapa, SMP sampai SMA gua bener-bener vakum dari aktivitas yang menyenangkan itu (ya walaupun nggak sepenuhnya vakum) dan lebih memilih untuk main bareng temen kelas. Hal ini yang menyebabkan gua sedikit terlambat untuk kenalan sama karakteristik tulisan. Seperti apa tulisan ilmiah dan seperti apa yang non-ilmiah. Gua yang terkadang punya keinginan buat jadi ilmuwan--dan terkadang enggak--ya kudu berusaha sendiri, di luar kendali dosen-dosen gua untuk mengenal hal-hal kayak gitu. Soalnya, gua melihat dosen gua, mereka sebagian besar dapet cuan dari karya tulis mereka, entah jurnal, buku, makalah or anything yang malah bisa mengantarkan mereka ke belahan dunia lain. Paling enggak, gua harus punya skill begitu. Karena perkenalan gua dengan kosa kata untuk membuat kalimat yang ndaik-ndakik itulah pertama kali gua dapet tegoran dari dosen, sewaktu makalah kelompok gua dibaca doi. Terus juga, masalah keefektifan penulisan karya tulis ilmiah, misalnya batasan bahan bahasan, struktur makalah yang sesuai, trik membuat narasi per paragraf, kolaborasi antara semuanya menjadi satu kesatuan yang sesuai dengan judul dan lain sebagainya. Technically, kelas metodologi emang bikin bosen, tapi, sekalinya dikuasai, itu akan mempercantik tampilan suatu karya, kok. Bismillah, deh, semoga di kemudian hari gua dikasih kesediaan diri buat cari-cari tau (ujung-ujungnya cuma scroll Twitter sampe mata beraer). Haha.
Melihat kawan-kawan yang sudah terjun ke dunia kepenulisan juga bikin gua salut sama mereka, sih. Tulisan mereka keren-keren gila, gua seketika membayangkan proses mereka dalam meriset materi tulisan yang sedemikian demanding nya untuk membuat suatu tulisan yang epik. Inilah mengapa, gua memilih untuk menyadari setiap pernyataan yang gua tulis untuk kebutuhan pertanggungjawaban tulisan. Penguasaan materi dan sumber perlu dipegang erat karena ini merupakan argumen gua ketika muncul pertanyaan. Inilah mengapa, mengenal kosa kata secara terminologi dan etimologi perlu, bund. Gua melatih diri untuk mengenal secara lebih mudah tulisan gua dengan perbendaharaan kata yang gua punya. Nggak maksa biar terlihat keren dan ketika ditanya, gua blank karena tulisan yang gua buat saat itu menuruti hawa nafsu untuk show off semata. Ini penting karena tulisan dibuat sedemikian rupa agar penyampaian informasi dapat lebih mudah. Catatan penting buat diri gua yang suka lemah iman, hal ini memang wajib dimengerti jika tulisan akan meluncur ke peradaban. Tulisan itu akan terekam nggak secara temporer dan bisa jadi boomerang kalau gua asal bunyi.
Komentar
Posting Komentar