MATERI SEJARAH ASIA TIMUR PERIODE LAMA HINGGA BARU - SENIN, 26 OKTOBER 2020

Oleh : Reza Febri Pratama (190110301061/Kelas A)

Region Asia Timur ini merupakan salah satu region di benua Asia yang sama-sama memiliki peradaban tertua di dunia, setelah peradaban Asia Barat. Cina, sebagai negara terbesar juga menjadi negara pertama yang memulai peradaban itu, yang tercatat dalam kekuasaan Dinasti Chou (13 SM). Kemudian, kekuasaan berlanjut dari dinasti Ch’in, Han, Sui hingga ke dinasti T’ang, dimana Cina mengalami kegemilangannya. Hingga masa kekuasaan dinasti T’ang, China sudah mendapatkan berbagai pengaruh budaya dari luar, seperti dari India, Yunani-Persia dan Arab yang salah satu bentuk pengaruhnya adalah penyebaran agama. Hindu, Buddha, Islam hingga Kristen dikenal di daratan Cina. Penyebaran budaya ini mutlak dikarenakan adanya persentuhan dengan bangsa lain melalui berbagai cara, salah satunya perdagangan. Namun, Cina sudah memiliki kebudayaan lokal sendiri yang nantinya ada yang diakulturasikan serta ada yang memang dianut secara mentah-mentah. Selain Cina, terdapat negara Mongolia, Jepang dan Korea yang menjadi bagian dari region ini, namun melalui sejumlah faktor, terjadi pemisahan lagi, seperti Cina terbagi menjadi Makau, Hongkong dan Taiwan pada periode modern, dan Korea terbagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut juga memiliki peristiwa sejarah masing-masing namun masih berhubungan satu sama lain.

Asia Timur memiliki sejumlah kepercayaan lokal seperti Konfusianisme yang digagas oleh Kung Fu Tzu pada abad ke 5 SM, Taoisme oleh Lao Tze pada abad ke 6 SM dan Shintoisme berkembang di abad ke 3 SM yang berkembang dari aliran filsafat. Aliran filsafat ini masing-masing memberikan cara pandang bagi masyarakat Asia Timur dalam melangsungkan kehidupan mereka pada periode kemunculannya, dapat diidentifikasi sebagai standar moral yang berlaku. Selain sistem religi ini, terdapat wujud kebudayaan lain seperti aksara Cina (Hanzi) yang kemudian menginspirasi pembentukan aksara Kanji di Jepang dan Hangul di Korea. Masyarakat Asia Timur juga tetap melestarikan aksara mereka sendiri yang penggunaannya berdampingan dengan huruf Alfabet. Jenis ras yang mendiami region ini sebagian besar merupakan ras Mongoloid dengan warna kulit kuning hingga sawo matang, bertubuh pendek, memiliki bentuk mata yang sipit dan warna mata kecoklatan dan hidung yang kecil. Beberapa komoditas unggulan dimanfaatkan oleh masyarakat Asia Timur seperti tumbuhan Binahong yang diolah menjadi berbagai macam produk obat, kemudian Ginseng, tumbuhan asal Korea yang diolah menjadi produk kesehatan, serta benang sutera yang diolah menjadi kain sutera, kain halus dan berkilau ini diolah menjadi pakaian yang sempat digunakan para kaisar dahulu, bahkan hingga saat ini sudah dapat dijangkau oleh semua orang. Budaya makan dengan sumpit, minum teh, memasak kimchi, festival panen, karakteristik arsitektur bangunan dan lain sebagainya, saya rasa, semuanya menjadi warisan dari nenek moyang masyarakat Asia Timur yang membedakan mereka dari bangsa-bangsa lainnya.

Dinasti T’ang bersama para kanselirnya yang terampil dan pandai, seperti T’ang Tai Tsung dan T’ang Hsuan Tsung melalui kebijakannya kemudian memberi efek kemajuan pada Cina, seperti upayanya terhadap pembangunan ilmu pengetahuan, kemudian memeperluas kekuasaan kekaisaran, membangkitkan seni dan kesusastraan hingga menyatukan kebudayaan Cina. Dinasti ini kemudian juga mengalami kemunduran dan digantikan oleh dinasti-dinasti lainnya, seperti Sung yang terbagi menjadi 2 (utara dan selatan) yang berakhir karena penyerangan bangsa Mongol, kemudian dinasti Yuan yang dipimpin oleh Kubilai Khan, dinasti Ming yang dibentuk oleh etnis Cina asli dan berakhir karena keadaannya yang lemah dan penyerangan bangsa Manchu serta yang terakhir adalah dinasti Manchu yang berakhir karena adanya campur tangan bangsa Barat, penderitaan rakyat akibat beban pajak, bangkitnya semangat nasionalisme Cina dan perkembangan agama Kristen. Begitu juga dengan Jepang, dari peradaban kuno yang tumbuh di kota Yamato hingga masa Keshogunan. Korea juga kurang lebih sama, dari zaman kekuasaan Gojoseon, Jin dengan hubungannya dengan Dinasti Han Cina, Joseon hingga persentuhan dengan bangsa Barat. Mongolia, dari masyarakat pastoralis nomaden, Kekaisaran Mongolia yang mengembangkan sayap sampai ke Eropa dan pengaruh kedinastian Cina di negara ini.

Selama kurang lebih berabad-abad lamanya menuju zaman modern, jelas, masing-masing kanselir pada periode kekuasannya menyajikan serangkaian kebijakan demi kebaikan rakyat mereka sendiri, mulai dari militer, ekonomi, sosial-budaya yang beberapa warisanya masih dapat dilihat sampai sekarang. Dari keseluruhan dinasti atau kekuasaan yang bertengger namanya di Cina dan negara Asia Timur lainnya, sebagian besar dari kekuasaan itu mendapatkan ancaman nyata dari bangsa luar, mulai dari bangsa pengembara seperti Xiongnu, kerajaan Mongol, kedatangan bangsa Barat dan segala campur tangannya dan lain sebagainya. Hal ini sedikit banyak menentukan kebudayaan masyarakat Asia Timur, misalnya Tembok Raksasa Cina yang dibangun pada masa Dinasti Ch’in, politik isolasi yang berlaku di Jepang dan lain sebagainya.          

Negara-negara di benua Asia pada umumnya identik dengan kemiskinannya, begitu juga yang terjadi di negara-negara Asia Timur. Kita tentu mengenal Cina, Korea Selatan dan Jepang yang sekarang menjadi macan Asia, menyetarai negara-negara barat seperti Amerika Serikat, Inggris dan lain sebagainya. Namun, sebelum itu, negara-negara tersebut masih dikatakan berkembang, bahkan miskin yang melebihi negara di Afrika. Cina setelah revolusinya tahun 1912, Korea sebelum kepemimpinan Park Chung Hee dan Jepang saat masih mengurung dirinya serta kehancuran karena perang sama-sama perlahan bangkit dengan strategi-strategi pemerintahannya yang hitam dan putih. Campur tangan bangsa Barat seperti Inggris di Hong Kong, Amerika Serikat di Jepang dan Korea Selatan pada dasarnya membawa misi mereka yang hendak memasukkan pengaruh mereka ke seluruh dunia, dalam hal ini pada Perang Dunia I hingga Perang Dingin. Cara hidup liberalisme dan kapitalisme yang dipopulerkan oleh bangsa Barat diperhitungkan memberi sumbangan kepada kemajuan negara-negara ini, namun, pemimpin setempat juga menerapkan budaya setempat, seperti Korea saat periode kekuasaan Chung Hee yang kembali memegang ajaran Konfusianisme di tengah-tengah upaya pembangunan negara. Hal ini secara terpadu dengan sumber daya yang dimanfaatkan secara maksimal berhasil membuat ketiga negara tersebut secara perlahan menjemput status ‘maju’ bagi negara mereka. Cina kini maju di bidang komunikasi, otomotif dan elektronik, Korea juga maju di bidang serupa beserta industri hiburannya, Kpop yang sekarang sedang mendunia, begitu pula dengan Jepang. Mongolia dan Korea Utara masih diperhitungkan menjadi negara berkembang, namun, Mongolia saat ini sedang berupaya memanfaatkan sumber daya negara mereka yang kaya melalui hubungan kerjasama dengan negara tetangga mereka yang besar, seperti Rusia dan Cina, tak ketinggalan beserta negara Barat juga. Sedangkan Korea Utara masih menghadapi kemalangan dari berbagai sisi, yang paling mencolok adalah dari sisi politik yang kurang suportif terhadap kesejahteraan rakyat.

Memahami Asia Timur membuat kita merenung terhadap kondisi negara kita masing-masing. Kita menyortir, mana kiranya kiat-kiat yang mendukung dan mana yang tidak dalam upaya pembangunan bangsa. Korea dan Jepang dengan jumlah penduduk yang jauh lebih kecil daripada Indonesia patut kita telusuri biografi bangsa mereka sebagai pecut bagi Indonesia agar mendapatkan semangat yang sama, demi kemajuan bangsa. Namun, perlu diketahui juga, kita membutuhkan orang-orang yang memiliki jiwa visioner dan ambisi untuk maju dengan mempertimbangkan keadaan sekitar, sehingga pembangunan menyeluruh dapat dilakukan secara lancar dan maksimal.

Komentar

Postingan Populer