MATERI SEJARAH ASIA BARAT PERIODE BARU - SENIN, 12 OKTOBER 2020

Oleh : Reza Febri Pratama (190110301061/Kelas A) 

            Pembahasan mengenai babak baru sejarah Asia Barat akan dimulai pada masuknya bangsa-bangsa barat ke daerah yang disebut Oriental ini. Kekaisaran Utsmaniyyah sudah mengakar kuat di Asia Barat hingga ke tenggara Eropa sejak abad ke 13 hingga keruntuhannya pada awal abad ke 20. Pada abad ke-19, imperium ini mulai memudar kekuatannya, dan berdatanganlah bangsa barat seperti Perancis ke Mesir sebagai pembuka jalan kolonisasi di daerah Timur Tengah yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Serangkaian kebijakan yang dibuat oleh Perancis dirasa tidak menguntungkan rakyat dan merusak sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat Mesir, sehingga menimbulkan pemberontakan seperti dibentuknya Deklarasi Jihad oleh Sultan Salim III dengan menghimpun kekuatan, sehingga Turki mampu mengusir Perancis dari Mesir pada 1801.

            Kekaisaran Utsmaniyyah sebagai imperium yang mencekal Timur-Tengah sebetulnya belum benar-benar runtuh pada abad ke 19, namun kekokohannya mulai goyah atas pertempuran yang dilakukan dengan Rusia dan Austria karena pendudukan wilayah imperiumnya. Namun, pemerintahan Utsmaniyyah dibantu oleh Britania untuk peredaman konflik, yang mengakibatkan terjadinya pemberian imbalan atas jasanya. Bentuk pemberian imbalan seperti memberi wilayah kekuasaan (Siprus) kepada Britania, membuat Britania memiliki kendalinya atas wilayah Timur Tengah, bersamaan dengan Perancis lagi.

            Kekaisaran kemudian bubar secara dramatis dengan banyak peristiwa sosial yang dilalui. Peperangan dengan bangsa Balkan yang kemudian dilanjutkan dengan kekaisaran kehilangan satu persatu wilayah kekuasaannya seperti Libya dan Liga Balkan, dan berlanjut lagi kepada pembersihan dan pengusiran penduduk Muslim selama 1822 hinga 1922 yang menggiring mereka ke Timur (Turki, Libanon, Palestina, Suriah, Yordania dan Irak). Kekaisaran Utsmaniyyah kemudian juga turut andil dalam Perang Dunia I dengan bersimpati kepada kubu Jerman. Dalam hal ini, Inggris dan Perancis diam-diam telah membuat perjanjian pembagian wilayah kekuasaan di Timur Tengah dengan gerak Inggris memberi janji kemerdekaan kepada Arab dari wilayah kekuasaan Utsmaniyyah. Hal ini menyulut pemberontakan Arab pada 1916, Gencatan Senjata Mudros pada 1918 yang menyebabkan pendudukan Kota Konstantinopel dan pemecahan Turki Utsmaniyyah. Migrasi orang-orang muslim dari wilayah Balkan dan Mediterania menuju Anatolia dan Trakia Timur turut mewarnai kemunduran kekaisaran ini. Pendudukan Konstantinopel dan Izmir oleh Inggris dan Perancis kemudian melahirkan gerakan yang disebut Perang Kemerdekaan Turki di bawah Mustafa Kemal Pasha yang berakhir pada kelahiran Republik Turki pada 29 Oktober 1923. Kaisar terakhir Utsmaniyyah pada saat hancurnya Utsmaniyyah saat itu adalah Mehmed VI yang berkuasa selama 4 tahun (1918-1922).

            Gerak kedua negara Barat selanjutnya adalah membentuk negara-negara modern sebagai pecahan Kekaisaran Utsmaniyyah seperti Yordania dan Irak sebagai monarki. Kemudian memerdekakan Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman dan UEA dari 1961 hingga 1971. Setelah pemberian kemerdekaan terhadap negara-negara tersebut, kemudian, Inggris bersama Perancis dan Amerika Serikat membentuk negara bagi bangsa Yahudi yang sebelumnya terdiaspora di Eropa, mereka berencana menempatkan Palestina menjadi Israel bagi bangsa Yahudi. Pembentukan negara ini bukan tanpa alasan, negara-negara Barat itu ingin memiliki kepentingan menguasai cadangan minyak di daerah tersebut. Israel pada akhirnya memproklamasikan negaranya pada 14 Mei 1948 dengan setelahnya diwarnai oleh peperangan oleh negara-negara Arab.

            Konflik masih terjadi di kawasan Asia Barat ini di waktu 50 tahun terakhir, ketika terjadi Perang Teluk yang melibatkan Iran, Irak dan Kuwait mengenai persoalan minyak. Mulai dari perebutan perbatasan oleh Irak kepada Iran hingga upaya ekonomi yang dilakukan Kuwait dengan menurunkan harga minyak, membuat pendapatan Irak turun. Pada Perang Irak-Iran, Irak dengan pemimpinnya Saddam Hussein banyak melakukan pertempuran dengan dekengan dari Amerika Serikat, Uni Soviet dan negara-negara Arab lainnya karena untuk kepentingan penjagaan cadangan minyak. Sedangkan pada perang Irak-Kuwait, giliran Kuwait yang mendapatkan banyak bantuan dan Irak mendapatkan embargo ekonomi karena  rasa dendam kekalahannya yang dicurahkan dengan pembakaran 700 ladang minyak Kuwait. Embargo tersebut membawa Irak pada keadaan hiperinflasi, meluasnya pengangguran, kemiskinan dan maraknya kasus malnutrisi. Sejak embargo pada 1990 an berdampak sangat buruk terhadap masyarakat Irak, akhirnya embargo dicabut pada tahun 2003 setelah kekuasaan Saddam Hussein tumbang.

Komentar

Postingan Populer