Memilih Jurusan Kuliah

Disclaimer dulu, ya. Gua bikin tulisan berjudul ini bukan berarti gua adalah orang dengan seakan-akan merasa tepat dan pas banget dengan jurusan gua sekarang. Sejauh ini, gua masih nyaman dan masih merasa bangga gua bisa menjadi mahasiswa di jurusan yang menerima gua. Nggak tau bagaimana nantinya, intinya, gua masih menikmati proses dalam jurusan ini.

Sebetulnya, dalam koridor gua, bagaimana gua memilih jurusan kuliah masih ada sangkut-pautnya sama gap year gua dulu. Gua mengambil manfaat dari waktu jeda itu buat merenungkan diri, mempertanyakan diri sendiri, mencari informasi seputar jurusan-jurusan di rumpun ilmu sosial humaniora sembari gua ngepasin semua yang gua dapet dengan keadaan diri gua.

Gua itu banyak gembar-gembor tentang jurusan gua sewaktu SMA dulu, beberapa temen gua pasti inget hal ini : gua menjadi orang ambis untuk masuk jurusan Ilmu Hubungan Internasional di universitas yang ingin gua tuju. Mengapa gua memilih jurusan itu? Alasannya masih agak-agak shallow, in my opinion. Karena gua mabok KDrama, jadilah gua punya keinginan untuk jadi diplomat atau dubes di Korea Selatan. Haha. Masuk ke waktu-waktu daftar ujian saringan masuk PTN, gua nggak sama sekali daftarin jurusan tersebut. What an idiot! Dari SNMPTN sampe Ujian Mandiri 2018. Kenapa? 

Gua sadari, gua sewaktu remaja itu labil dan banyak hal penting yang ingin gua miliki berdasarkan dari hal-hal yang gua inginkan dan hanya yang gua sukai saat itu. Ada perubahan di sini. Pada akhirnya gua memilih jurusan Ilmu Komunikasi UI di SNMPTN 2018. Masih satu fakultas, sih. Tapi... ya, begitulah gua. Jadi dulu tuh gua baru melek yang namanya video blogger. Gua suka liat-liat vlog dengan editan videonya yang cakep-cakep, alus, suaranya bening, canggih dan udah gitu menghasilkan. Plus, gua lagi seneng banget nontonin campus tour vlog. Gua juga menyadari diri gua yang suka bacot ba, bi, bu di depan kamera (gua nggak pernah bikin vlog beneran, cuma merekam diri sendiri buat ngomong kayak vlogger-vlogger), dan gua menyukai hal itu. Alhasil, gua nggak diterima.

Lanjut, gua ambil jurusan Jurnalistik UNPAD. Alasan pengambilan jurusan ini sama kok kaya gua ngambil Ilkom UI. Kemudian Ilmu Hukum UNSOED. Gua ngambil jurusan ini karena gua rasa, gua cukup suka dalam pelajaran PKN dan pelajaran IPS, khususnya Sosiologi. Hal tersebut bisa dilihat dari nilai rapot gua di pelajaran itu yang menurut gua cukup meyakinkan diri gua untuk mengambil jurusan itu. Alhasil, gua dapet kata 'maaf' dari laman pengumuman SBMPTN.

Sastra Inggris. Jurusan ini juga gua ambil dikarenakan gua suka Bahasa Inggris! Udah! Nggak ada hal lain yang gua pertimbangkan lebih lanjut. Mengenai jurusan HI, gua nggak jadi ambil karena nuansa kegemaran gua terhadap KDrama sudah pudar ketika gua menginjak kelas 3 SMA. Gua menjadi seneng Hollywood Culture (eh apa deh, istilah buat nyebutin hiburan Barat? Intinya itu, deh.) dan pertimbangan lainnya adalah, UI pelit banget daya tampung di jurusan itu. Sedangkan yang minat, bocahnya bisa lebih pinter daripada gua dan gua udah keburu minder. 

Gua mengalami gap year. Sebelas bulan menuju pendaftaran SBMPTN 2019 adalah waktu yang cukup bagi diri gua untuk membingungkan diri dalam memilih jurusan. Gua sempet pasang-copot jurusan yang mau gua tambatin di kartu peserta SBMPTN gua. Mulai dari HI-Sosiologi, Ilmu Hukum-Sastra Inggris, Ilmu Politik-Sastra Belanda, Antropologi-Ilmu Sejarah.... what? Ilmu Sejarah? 

Sumpah, deh. Ini bener-bener setiap hari gua mempertimbangkan jurusan itu --kala gua mandi, belajar, sholat (waaa kagak khusyuk nih, haha), boker, nyapu rumah, ngelap meja, nyikat lap pel, ngitung duit, berkendara sampe mau tidur bahkan dimimpiin profesi-profesi dari setiap jurusan yang tersedia untuk siap gua pilih--. 

Wahh, gua ambil Hukum aja, deh. Biar kerja di firma hukum, jadi jaksa atau pengacara, kerja di lembaga pemerintahan atau apalah... kan luas juga tuh prospeknya, daya tampungnya banyak pula. Eh, apa Sastra Belanda, ya? Tapi, mau kerja apaan masuk sono? Ah, kaga nape, yang penting kan di UI... Pegimane kalo Ilmu Politik? Anjir kalo masuk jurusan itu auto di wah-wahin orang-orang lu! Dikata pinter, kritis dan pemberontak negara. Atau Antropologi, ya? Tapi, nanti jadi apaan anjir? Kan dia kuliahnya ngulik-ngulik orang-orang pedaleman? Kalo Sosiologi? Mmmm, mau kerja di Kemensos? Eh-eh, tapi kan gua mau keliling dunia, ya Sastra Inggris dong? Sampe mampus.

Keresahan itu bener-bener menggelayuti perasaan dan pikiran gua, ngembat tenaga ternyata. Nggak tau juga nih, kenapa. Karena hal itu gua rasa penting kali, ya? Belum lagi kecampur pikiran urusan keluarga, kerjaan, pertemanan dan lain sebagainya. Ngaruhnya ke seberapa beringas gua beraktivitas di setiap hari. Jadi, gua memutuskan untuk nggak mengambil keputusan apa-apa dulu.

Menghadapi aturan baru seputar pelaksanaan seleksi SBMPTN sebelum hari H pemilihan jurusan, gua diberi keuntungan oleh kebijakan tahun lalu yang mana pengambilan jurusan dilakukan setelah peserta ujian menerima sertifikat hasil ujian. Jadi gua bisa putuskan itu dalam estimasi waktu satu atau dua minggu, mengekstrak keruwetan gua di hari-hari kemarin jadi suatu bentuk keputusan yang mengerucut. Jadi, gua sambi belajar dulu di tengah-tengah pencarian informasi mengenai strategi pengambilan jurusan yang tepat.

Gua mendapatkan waktu rileks adalah ketika balik kerja dan saat belajar di malam hari. Di tengah waktu gua belajar, gua kembali inget buat coba-coba nyari artikel yang menjelaskan strategi itu. Setelah gua baca beberapa artikel dan gua coba menerapkan saran yang artikel itu beri, suatu respon dalam perasaan dan fikiran gua yang masih tetap sama, nggak klik dengan saran mereka. Pencarian terhenti sampe gua nemu artikel Zenius --web di mana gua pake untuk les-- yang menjelaskan cukup jelas bagaimana strateginya. Salah satu yang paling ngena adalah,

Cari jurusan di mana kamu rela ngabisin waktu berjam-jam untuk mempelajari sesuatu yang ada di dalamnya.

Satu kalimat yang mengantarkan gua kembali menimbang-nimbang hal yang sudah gua lalui selama ini. Tahap selanjutnya, otak ini dengan sendirinya mencetuskan kata 'pengorbanan'. Selain rela ngabisin waktu, gua rela untuk berkorban materi demi sesuatu yang menarik minat gua. Nah, 'minat' itulah yang akhirnya membuat gua mencoba mempertanyakan diri gua. Gua suka apaan ya? Bacaan apaan yang membuat gua merasa takjub? Kenapa hal itu dirasa takjub, ya? Gua penasaran sama hal-hal apa, sih? Kalo gua ke toko buku, gua suka mampir ke rak tema buku yang mana, ya? Gua merasa terbebani nggak sih belajar ginian? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang gua ajukan pada diri gua sendiri.

Selain pengorbanan, gua juga mendapatkan pencerahan lagi, bahwa kita menempuh masa yang berbeda antara kuliah dan bekerja. Tidak semua pekerjaan peduli terhadap jurusan yang diambil seseorang ketika kuliah. Maka dari itu, pengambilan jurusan yang secara dominan menyandarkan alasan kepada harapan pekerjaan di masa depan, gua rasa nggak efektif. Karena, belum tentu juga gua dapet pekerjaan harapan itu, dan apakah kualifikasi yang terdapat pada pekerjaan itu cuma dilihat dari apa jurusan kuliah kita? Nggak. Soft skill, pengalaman, kemampuan berbahasa asing juga andil barang besar tempat. Kalo urusan kuliah kita wadahin buat urusan kerja, apakah jurusan yang kita ambil sudah bisa dirasa memiliki ikatan emosional dan intelektual kita? I mean, lu kalo pada pertengahan masa kuliah di jurusan yang lu ambil karena alasan menghindari masa depan suram --menghadapi ketidakbetahan karena mata kuliahnya terlalu sulit dan nggak cocok sama kepribadian lu, mau gimana, dah? Masih mau melawan kata hati lu? Gua rasa, lu bakal kesusahan sih kalo tetep masang senyum seraya berpura-pura biar orang nggak bilang "Makannya, kalo ngambil keputusan itu dilihat dari berbagai macam sisi. Jangan lawak, bilang demi masa depan malah lu yang kesusahan di masa depan."

Lagi. Gua sempet berfikir, mungkin beberapa jurusan itu cocok dilihat dari apa tipe MBTI lu. Karena gua dari golongan Introvert, gua rasa, setelah mikir-mikir kenapa Sejarah jadi final destination gua, anggep takdir. Jurusan ini nggak mengharuskan gua untuk melakukan aktivitas di mana gua harus berurusan dengan banyak orang. Mari kita ambil contoh, Komunikasi, mungkin dalam jurusan itu ada mata kuliah Public Speaking, yang dalam beberapa kesempatan bisa menghadiahi gua sebuah kewajiban untuk ngomong di hadapan banyak orang. Gua berfikiran kalo gua kayaknya nggak banget buat itu, pada saat itu. Sebetulnya, muara program studi itu dinamis, Sejarah juga bisa kayak gitu dan Komunikasi bisa di custom untuk orang tipe introvert juga. But I just thought so at that time. Barangkali penggolongan jurusan bisa berdasarkan tipe MBTI seseorang dan kalo emang iya, sok atuh dicocok-cocokin, mana suka mana enggak.

Jangan lupa! Selalu cek dan baca, daftar mata kuliah dari program studi yang ingin dituju. Biasanya, kampus-kampus nyediain PDF berisi daftar mata kuliah selama 6/8 semester dari program studi yang tersedia. Setiap poin mata kuliah pasti berkaitan dengan objek bahasan selama perkuliahannya. Kalau judul mata kuliah dirasa masih belum cukup memberikan gambaran yang jelas, bisa banget googling poin-poin objek bahasan mata kuliah tersebut. Minta ke kakak kelas kalian kalo memang ada di jurusan yang sama dengan jurusan yang kalian mau ambil. Biasanya, rincian bahasannya tersedia di e-learning kampus. Kaya di kampus gua, di situ ada rinciannya berdasarkan literatur yang dipake sebagai acuan sama dosennya. Karena kalian akan melewati serangkaian proses yang kurang lebih sama sepanjang 6 atau 8 semester kayak, ngobok-ngobok buku, diskusi, praktek dan lain sebagainya, pastikan hal-hal yang berkaitan dengan proses itu akrab dengan kalian. Pendek kata, lu doyan sama pelajarannya, mau dibawa nulis, baca, paraktek, diskusi atau apapun itu, lu yolo. Karena sekali lagi, lu bakal ngewaroin itu dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa, nggak tau banyak atau dikit terjadi setelah melewati masa perkuliahan. Peserta SBMPTN yang lolos ke jurusan yang nggak sesuai dengan kualifikasi yang udah gua tulis di atas, kebanyakan merasa nggak menikmati proses kuliahnya, belum stick sama kehidupannya. Ada yang ngerasa kesusahan, nggak ada nafsu buat kuliah di setiap harinya, kuliah cuma tipsen, dateng tapi maen HP doang dan banyak hal lain terjadi. Sampai pada tahun kedua, ketiga, mereka memutuskan untuk ikut SBMPTN lagi karena belajar dari pengalaman. Berapa duit untuk bayar pengalaman salah masuk jurusan? UKT, biaya hidup, biaya perkuliahan lainnya sampai waktu lu diterima lagi di PTN dengan jurusan yang tepat, atau bahkan nggak diterima dan bingung mau ngapain... well, gua nggak mau memandang kalo ini hal buruk karena gua selalu being that center to money. Apapun yang timbul sebagai bentuk pengajaran itu baik. Mungkin aja, keadaan yang menjepit bisa leads someone untuk membuat keputusan baru dengan berbagai macam pertimbangan. Bisa jadi juga, mereka menemukan jalan baru yang terbaik. Who knows?

Komentar

Postingan Populer