Gap Year
Beberapa hari belakangan ini, gua ke distract sama KDramas dan film, plus gua semacam terkena lazy wave (my own lazy period -probably similar with menstruation period-) yang bener-bener menghambat percepatan penyelesaian tugas-tugas gua. Udah gitu lazy wave nya berkepanjangan, nggak kelar-kelar, padahal bentar lagi gua mau Ujian Akhir Semester. Huh, nugas gak kayak gawe yang mau nggak mau lu kudu kerjain, brou.
Anyway, gua lagi punya mood buat nulis blog nih, setelah tadi gua nyoba ngumpulin niat buat do something. Gua mau ngobrolin pengalaman gap year gua di sini. Semoga bermanfaat, ya.
Gua adalah lulusan SMA tahun 2018 dan nggak absen ikut ujian saringan masuk PTN di tahun pertama lulus. SNMPTN sampe Ujian Mandiri gua ikutin, tapi semuanya nggak ada yang ngasih ucapan selamat ke gua. Dilihat dari bagaimana gua berjuang untuk dapetin satu kursi di PTN, gua nggak main-main, bisa dibilang orang pertama yang paling aware masalah penerimaan mahasiswa baru di kelas gua ya gua sendiri. Tapi kadang kenyataan menampilkan hal yang sebaliknya : dari yang main game sampe yang sekolah aja nggak niat bisa dapet kursi di PTN. I would not to be salty, gua selalu beranggapan kalau Allah memberi rezeki ke orang lain dengan alasan yang nggak perlu gua ketahui.
Karena gua nggak mau buru-buru untuk langsung kuliah dengan milih PTS (pada saat itu, gua anggep PTS adalah sekolah yang inferior), plus kondisi ekonomi keluarga gua sedang ancur, jadilah gua disuruh kerja dan pada akhirnya gap year.
Gap year bukan merupakan hal yang gua harapkan dan juga yang membuat gua jadi nangis-nangis sampe ngeluarin air mata sebanyak Sungai Hwang Ho. Emang awalnya kaget banget, karena gua melakukan sejumlah kesalahan: entah persiapan dan teknisnya. Those kind of strategy were fucked up. Sampai pada beberapa waktu gua trauma dengan kesalahan gua dan meragukan apakah gua bisa rasional dan cepat tanggap dengan keadaan. Lain hal, gua juga udah kenal istilah ini dari hasil nonton video di YouTube, nyimak pengalaman orang-orang yang ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru. Karena hal yang akan gua lalui adalah seleksi, dimana bisa aja gua nggak lolos dan harus go ahead.
Jeleknya gap year adalah lu punya banyak waktu untuk overthinking. Ini yang membuat dinamika semangat belajar gua dan kepercaya dirian gua. Tapi, cepet-cepet lu kudu bisa moving on dan bikin strategi baru. Kebanyakan yang dilalui temen-temen yang gap year adalah mereka bisa merenungi diri atas yang sudah mereka lalui, termasuk gua. Mulai dari mengingat kesalahan, mencari kesalahan dan menyadari kesalahan untuk selanjutnya gua kasih formula baru. Dari kesalahan perencanaan, rasionalisasi nilai, penetapan program studi dan kampus, manajemen waktu ketika ujian, informasi resmi terkait aturan pengerjaan ujian, kesiapan mental saat ujian, strategi mengerjakan soal dan masih banyak lagi. Itu semua gua dapetin ketika merasa sesuatu lagi stuck di suatu titik, sembari ngemut coklat Cadburry bisa tuh tiba-tiba lamunan itu muncul, Nah, habis itu tinggal lu eksekusi dengan tindakan.
Pengalaman gua adalah salah penempatan jurusan dan kampus (gua percaya ini bagian dari jeleknya diri gua yang belum mengenal diri secara mendalam). Di SNMPTN dan SBMPTN 2018, gua daftarin jurusan yang tidak sesuai dengan selera intelektual gua, plus nilai gua nggak memadai untuk bersaing di kampus yang gua daftarin. Gua daftar jurusan Ilmu Komunikasi di UI, Jurnalistik di UNPAD dan Ilmu Hukum di UNSOED. Di Ujian Mandiri, gua daftar di jurusan Sastra Inggris, D3 Bisnis Internasional dan Bahasa Inggris di UNSOED. Untuk kesalahan semacam ini, gua sadari ketika gua nyaman belajar Sejarah pas persiapan SBMPTN 2019, yang proses belajarnya sudah memakan waktu sekitar lima sampai enam bulanan. Gua ternyata bukan orang yang rela ngabisin waktu buat nyari tau gimana strategi broadcasting yang benar, kode etik jurnalistik atau kepoin isi KUHP dan KUHAP. Gua suka sesuatu yang lampau, bagaimana sesuatu terjadi pada awalnya, gedung-gedung kuno, cerita periode Rennaissance, Church Reformation, revolusi negara-negara dan lain hal mengenai sejarah. Simpelnya gitu. Kalo mau lebih rinci, saat kuliah, gua nemu yang lebih menarik lagi versi diri gua sendiri mengenai sejarah. Soal nilai? Dalam sejarah SNMPTN di SMA gua, nggak pernah ada ynag lolos ke UI, di SBMPTN gua nggak bisa ngerjain semua soalnya karena gua muter-muter dan too panic nggak bisa ngerjain satu jenis soal yag menurut gua gampang. Alhasil gua kehabisan waktu dan kayaknya skor gua bisa dibilang jeblok dan di Ujian Mandiri, karena pake nilai SBMPTN, udah barang tentu nggak dapet karena sesuatu yang terjadi pada nilai SBMPTN gua.
Begini, gua punya semacam ambisi untuk diterima di babak seleksi paling utama, yaitu SBMPTN. Udah gitu, kampus yang gua mark, nggak main-main: Universitas Indonesia. Setelah lu pada akhirnya ketolak in almost every surface, contohnya gua yang mulai hopeless karena nilai sedikit tapi ternyata kampus yang gua daftarin mengkualifikasikan nilai yang tinggi, lu akan mendapatkan semacam ancaman untuk didepak dari semua kampus yang lu daftarin. Hence, it leads you to think just the essential thing you actually have to choose. Ini terjadi ketika gua sudah daftar SBMPTN di tahun kedua, gua akhirnya merendahkan hati dan berdamai diri (saat itu, gua mengeliminasi UI, menyesuaikan skor ujian gua yang berdasarkan rumor nggak nyampe di sana). Gua nembusin ke PTS yang ada di deket kota gua, PTS yang posisi peringkatnya ada di klaster bawah. Karena apa? Hal yang gua butuhkan sebetulnya adalah kuliah di jurusan yang tepat dimanapun kampusnya, masa depan gua boleh jadi ditentukan oleh kampus yang mau nerima gua. Gua terkerangkeng ekonomi, yang membuat gua nggak bisa asal pilih kampus swasta tanpa dukungan beasiswa. Alhasil, setelah pencarian kampus swasta di deket kota gua nihil, karena beberapa prodi nggak ditawarkan untuk pelamar beasiswa karena masalah akreditasi, sampai emang yang bener-bener nggak ada beasiswa BidikMisi di sejumlah kampus swasta tersebut. Gua pada akhirnya nyoba seleksi di salah satu kampus swasta Yogyakarta, UMY. Kampus itu nawarin semua prodi untuk BidikMisi, kampus ini bisa dibilang punya kualitas bagus dari kampus yang gua daftarin di deket kota gua, Purwokerto.
Sebelumnya, gua ikut ujian SBMPTN 2019 dan mendapat skor di klaster pertengahan. Bisa diterima, tapi kalau penempatan prodi dan kampusnya tepat. Berkat web simulator yang berjasa bikin pemeringkatan skor ujian, skor gua masih masuk untuk dua kampus, yaitu Ilmu Sejarah UNAIR dan Sosiologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Gua nembak jurusan di FISIP, FH dan FIB, karena gua menghindari hitung-hitungan. Program studi pilihannya bisa Hukum, Antropologi, Sosiologi, Kesejahteraan Sosial, Sejarah, Filsafat sampai Arkeologi. Pilihan gua jatuh pada dua prodi yang gua masukkan tadi. Sebelum finalisasi, temen gua bilang, untuk kampus dibawah naungan Kementerian Agama tidak tersedia BidikMisi. Saat itu juga gua harus cari prodi dan kampus dengan pertimbangan keketatan program studi yang lebih rendah dari UNAIR. Alhasil gua nemu UNEJ. Gua milih prodi Ilmu Sejarah di sana.
Buat yang bertanya-tanya, kesibukan apakah yang gua lakukan sembari menunggu ujian tahun kedua? Gua habiskan untuk nyari kerja dan bekerja. Satu bulan nyari kerja di kawasan Jabodetabek yang hasilnya nihil karena kebanyakan manusia, selebihnya, gua bekerja di salah satu restoran ayam di kota gua, tepatnya sebelas bulan. Gua kerja sebagai kasir restoran yang juga nyamar jadi pelayan dan terkadang koki untuk beberapa menu makanan. Gua beruntung bekerja di sana, karena atmosfer kerjaannya cukup mendukung gua untuk sembari belajar, entah ketika gua kerja atau saat udah pulang kerja -gua masih punya waktu untuk belajar. Gua juga punya bos yang pengertian, yang nggak ngasih aturan aneh-aneh kepada karyawannya. Gua sering bawa buku soal-soal latihan ke outlet dan ngerjain soalnya pas sepi pelanggan, juga memanfaatkan akses internet outlet buat nontonin Zenius sampe mampus. Gua bisa minta shift schedule semau gua, atau cuti semau dan selama gua untuk keperluan ikut try out, ujian keluar kota dan lain sebagainya. Could you imagine? Gua bener-bener iket perut untuk keperluan masuk kuliah gua dan menopang kebutuhan hidup keluarga gua, sampai-sampai gua nggak bisa menikmati gaji untuk kenikmatan pribadi. Biaya ujian yang sampe 800 ribu belum termasuk ongkos transportasi dan akomodasi, gua tanggung pake hasil kerja keras gua. Sampai pada akhirnya, tabungan gua habis untuk kebutuhan hidup keluarga dan gua dengan perasaan takut gagal yang kedua kalinya beserta rasa takut gua nggak bisa memelas ke siapapun untuk menanggung biaya hidup gua ketika memang nyatanya gua diterima.
Gua frustasi karena proyeksi kenyataan buruk: setelah hampir satu tahun gua belajar, sampai pada titik menunggu pengumuman seleksi -gua harus dinyatakan gagal kuliah karena usaha gua ngumpulin uang selama ini lari ke hal yang lain, padahal gua lolos seleksi.
Menjelang dan saat hari H pengumuman seleksi, gua dihantui rasa takut, cemas dan sedih. Setelah seluruh upaya gua lakukan, gua harus nerima kenyataan untuk gagal kedua kalinya. Gua berupaya untuk menerima kenyataan, namun susahnya setengah mati. Kepala gua sakit, gua bener-bener dilanda 'bencana psikis' saat itu. Hari H, gua nyuruh teman-teman gua untuk nggak nanyain dan ngabarin apapun mengenai hasil seleksi gua ataupun mereka, gua pun cabut keluar rumah bareng adek gua, menghindari perasaan gelisah berjam-jam sampai pengumuman bisa dibuka. Gua sengaja nggak membuka WhatsApp untuk menjaga kondisi mental gua agar tetap stabil karena distraksi pertanyaan orang lain. Sampai pada akhirnya, gua apes untuk balik dari tempat wisata dimana gua dan adek gua santronin tadi tepat pukul pengumuman seleksi bisa diakses. Gua memilih untuk membuka ketika sudah sampai di rumah, karena saat itu gua lagi makan mie ayam. Namun yang terjadi adalah, gua buka WhatsApp dengan bodohnya. Tiba-tiba, salah satu temen gua yang sama-sama berjuang nyari PTN di tahun kedua ngirim pesan WhatsApp ke gua.
"Za, gua bangga sama lu. Usaha kita nggak sia-sia, gua mau peluk elu."
What the fuck is that mean?
Sementara itu, di grup kelas SMA gua riuh dengan pertanyaan 'siapa aja yang lolos' dari temen-temen gua yang sudah melenggang di kampus mereka. Pesan lain menyebutkan nama gua, dari orang yang sama -temen gua yang bilang mau meluk gua, dan gua nggak ngerti apa maksudnya. "Reza hebat!" . Gua bertanya-tanya, "Maksudnya apaan? Hebat gimana?". Temen gua bales lagi,
"Elu lolos."
Gua kurang percaya karena gua bertanya-tanya, gimana caranya dia tau hasil seleksi gua padahal gua nggak ngasih tau nomer pendaftaran dan waktu kelahiran gua. Gua bertekad untuk mengeceknya sendiri di tengah HP gua yang lowbat karena dipake buat nyimpen foto bejibun di tempat wisata tadi. Gua nggak bisa ngecek karena server beberapa web universitas lagi down (biasanya karena diserbu peserta SBMPTN yang sebanyak itu untuk nyari tau nasib mereka di dalem web-web itu). Temen gua, personal chat gua ngirimin hasil screenshot pengumuman seleksi gua.
"Selamat, anda lolos seleksi SBMPTN 2019 di program studi Ilmu Sejarah, Universitas Jember"
Perasaan gua kalang-kabut, takut karena foto yang gua terima cuma prank belaka (karena marak foto lolos seleksi SBMPTN palsu) dan juga perasaan agak kecewa karena gua ditolak UNAIR. Tapi, rasa senang, haru, gembira yang tak terbendung jadi suatu rasa yang membuat gua pengen nangis di tempat mie ayam tapi nyatanya gua nggak bisa nangis. Gua syujud syukur setelah akhirnya web dari Unsyiah bisa dipake buat melihat hasil seleksi dengan mata kepala gua sendiri. Satu hal yang belum gua ungkap di sini, temen gua bisa ngasih tau gua karena semua file seleksi gua taruh di laptop doi, termasuk kartu peserta SBMPTN gua. By the way, temen gua juga lolos SBMPTN di Ilmu Hukum Universitas Negeri Semarang, setelah memilih cuti selama satu semester dari UMY demi belajar bareng gua untuk ujian SBMPTN berikutnya.
Sepulang dari tempat mie ayam, keajaiban datang. Gua telfon ibu gua untuk ngabarin kalo anaknya berhasil masuk universitas negeri. Doi seneng banget dan tampak mendukung. Gua yang awalnya pesimis karena ibu gua nggak bisa bantu gua untuk biaya transportasi dan hidup selama di perantauan, ternyata doi menyatakan sebaliknya. Dia bersedia untuk nyariin dana demi keperluan daftar ulang dan pindahan gua ke Kota Jember. Semua itu terealisasi, perasaan kecewa gua karena takut gagal kuliah hilang sampai di situ.
Kenyataan memang mengejutkan, ketika memang gua hidup nggak megang GPS. Untaian doa, segenap usaha dan ketulusan hati udah cukup untuk membuktikan kalau gua sedang menambatkan harapan untuk sesuatu yang baik. Semua upaya bakal diganjar dengan cara yang fit in dengan diri gua, yang terbaik untuk diri gua, asalkan gua tetap menyambung asa.
Gua pada akhirnya jadi mahasiswa Sejarah Murni di Universitas Jember setelah pengumuman UTUL UGM dan SIMAK UI menolak gua. Gua hanya mampu berdoa, semoga kesarjanaan gua mampu mengarahkan gua dan keluarga untuk setidaknya mendapat kehidupan yang lebih baik.
Komentar
Posting Komentar