MATERI SEJARAH ASIA TENGGARA PERIODE LAMA HINGGA BARU - SENIN, 16 NOVEMBER 2020


Oleh: Reza Febri Pratama (190110301061/Kelas A)

Kawasan Asia Tenggara berupa semenanjung dari daratan Tiongkok yang menjulur ke arah selatan dan sebagian berbentuk kepulauan seperti di Filipina dan Indonesia. Kawasan ini memiliki giliran kontribusi peristiwa sejarah yang paling akhir diantara region Asia yang lainnya. Bangsa awal yang menduduki kawasan ini berasal dari dua ras, menurut Sarasin, yaitu Melanosoid dengan karakter kulit hitam, badan tegap dan tinggi, hidung pesek, rambut berwarna hitam dan keriting serta mukanya yang oval, sedangkan Mongoloid merupakan ras yang datang dari daratan Tiongkok dengan ciri fisik warna kulit kuning langsat, mata sipit, tubuh pendek dan berwajah oval. Jalur migrasi daratan ditempuh ketika semenanjung Indocina masih menyatu dengan daratan bagian barat Indonesia, kemudian untuk jalur lautan nenek moyang bangsa Asia Tenggara juga berlaut melalui rute Laut Cina Selatan, Selat Malaka kemudian hingga ke Samudera Pasifik. Seiring dengan mobilitas masyarakat dunia, ras di Asia Tenggara kemudian menjadi beragam karena terdapat kawin campur. Kedua kelompok ras ini pada tahap hidup yang paling awal masih berburu dan meramu yang kemudian mengenal sistem pertanian dari imperium Cina, yaitu Dinasti Han sekitar abad ke 3 SM. Masyarakat Asia Tenggara kala itu masih berupa kelompok etnis, seperti Thai/Siam di Thailand, Khmer di Kamboja, Burma Myanmar, Kinh di Vietnam, Melayu di Semenanjung Malaya dan Jawa di Kepulauan Indonesia. Bahasa yang digunakan dari kelompok etnis tersebut berkembang dari rumpun bahasa Austroasia dan Austronesia.

Masyarakat Asia Tenggara belum memiliki sistem pemerintahan yang kompleks seperti sekarang, seperti terstruktur dari lingkup nasional hingga ke kelurahan, namun masih berupa pedesaan yang sederhana. Masyarakat di kawasan ini lekat sekali dengan dunia lelembut, yang mana menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat ini. Animisme pada masyarakat Asia Tenggara digolongkan menjadi tiga karakteristik: penunggu, leluhur dan pelindung. Arwah penunggu merupakan roh-roh yang bersemayam di bebatuan besar, gunung, gua, sungai atau pohon yang dapat dipuja di kuil-kuil tertentu. Leluhur merupakan aktivitas menghormati sesepuh yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sedangkan pelindung merupakan suatu kepercayaan terhadap makhluk halus yang dipercaya dapat melindungi suatu unit sosial tertentu dalam masyarakat Asia Tenggara, mulai dari keluarga hingga negara.

Nenek moyang bangsa Asia Tenggara dapat ditelusuri melalui dua cara, yaitu teori dari daerah Tonkin dan Yunan. Kedua daerah tersebut membangun kebudayaan mereka sendiri, namun yang paling mencolok adalah, artefa mereka yang ditemukan dalam beberapa penelitian arkeologis, penyebaran batuan, penemuan fosil dan bangunan dan sebagainya. Teori dari Yunan merinci lagi bangsa Proto dan Deutro Melayu yang merepresentasikan ciri khas ras Asia Tenggara modern. Penelitian arkeologis yang dilakuan oleh beberapa ilmuwan seperti Stein Callenfeis, Paul dan Fritz Sarasin dan sebagainya menemukan kebudayaan batuan hingga perunggu di kawasan ini mulai dari zaman Paleolithikum (kapak genggam, alat serpih, dan fosil manusia purba: Pithecanthropus Erectus), Mesolithikum (Kjokkenmodinger dan Abris Sous Roche), Neolithikum (kapak dan perhiasan) serta perundagian yang berasal dari Dongson Hoabinh (nekara, batu tera, kapak corong dan candrasa). Bangunan berukuran besar juga tak luput ditemukan seperti Angkor Wat di Kamboja, Ayutthaya di Thailand, Candi Borobudur di Indonesia, Bagan di Myanmar dan My Son Sanctuary di Vietnam. Bangunan-bangunan besar tersebut merupakan proyek kerajaan-kerajaan yang pernah jaya di Asia Tenggara.

Indocina merupakan sebutan bagi daerah yang mendapatkan pengaruh kebudayaan India dan Cina. Kita ketahui, hubungan kawasan ini dengan kebudayaan Tiongkok sudah terlihat sejak invasi dinasti-dinasti Tiongkok ke semenanjung Indocina lalu migrasi penduduknya. Pengaruh kebudayaan India yang masuk ke kawasan ini dapat disebut dengan Sanskertanisasi. Aktivitas ini merupakan terdapatnya interaksi dan sinkretisme kepercayaan dan tradisi lokal dengan kepecayaan dan tradisi yang datang dari India. Sanskertanisasi lekat hubungannya dengan misi difusi agama Hindu dan Buddha dari pusatnya, anak benua India sekitar awal masehi di Asia Tenggara. Pengaruh dari berkembangnya kebudayaan agama ini memunculkan kerajaan-kerajaan bercorak Hindu dan Buddha pula, seperti Funan (Hindu, Buddha dan Animisme) di Kamboja yang muncul sejak abad 1 masehi, Ayutthaya (Buddha Theravada) di Thailand yang muncul pada abad ke 14 masehi,  Kutai (Hindu), Majapahit (Hindu), Mataram Kuno (Hindu), Sriwijaya (Buddha) di Indonesia yang muncul sekitar abad ke 4 masehi hingga abad ke 14 masehi. Selain dari pengaruh India, terdapat Dinasti Ngo dan Li di Vietnam yang merupakan bagian dari Dinasti Han di Tiongkok, kemudian Kerajaan Pagan (Buddha) yang mendapatkan kebudayaan Pyu dari Kerajaan Nanzhao (Yunan) muncul sekitar abad ke 11 masehi, dan Kerajaan Lan Xang dan Fa Ngum di Laos yang muncul pada abad ke 14 masehi. Terakhir merupakan kerajaan Islam di semenanjung Malaya, yaitu Kesultanan Malaka, muncul sekitar abad 15 masehi.

Interaksi bangsa-bangsa melalui berbagai imperium di Indocina turut membangkitkan perkembangan ekonomi kawasan ini. Aktivitas perdagangan yang terjadi di Asia Tenggara cenderung mengarah ke perdagangan maritim. Ini ditengarai karena kawasan Asia Tenggara memiliki kawasan lautan yang luas seperti Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Samudera Hindia dan Pasifik. Menurut catatan Marco Polo dan Cheng Ho, masyarakat Asia Tenggara sebagian besar  melakukan perdagangan ikan. Komoditas selanjutnya yaitu budak yang diperoleh dari peperangan, emas mentah, produk keramik, gula tebu, beras, rempah-rempah, dan kapas. Asia Tenggara yang memiliki iklim tropis menjadi begitu subur, tak mengherankan jika region ini memiliki mega diversity. Perdagangan sejak abad ke-15 sudah begitu mendunia dengan pusatnya di daerah Timur Tengah. Komoditas dari negara-negara Asia Tenggara dipasarkan di sana, sehingga mengundang rasa penasaran bangsa Barat. Inilah yang kemudian membuka babak sejarah baru di Asia Tenggara, yaitu masa kolonialisme dan imperialisme Barat. Bangsa Barat seluruhnya menempuh jalur laut dikarenakan embargo ekonomi oleh orang Muslim di Timur Tengah ketika jatuhnya Kota Konstantinopel di Turki melalui Perjanjian Tordesillas dan Saragosa. Interaksi bangsa barat di Asia Tenggara berlangsung selama berabad-abad lamanya, mulai dari niat awalnya berdagang, kemudian memonopoli dan mengeksploitasi negara-negara di kawasan ini, seperti Inggris di Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Singapura, kemudian Belanda di Malaysia dan Indonesia, Portugis di Indonesia dan Timor Leste, Perancis di Kamboja dan Cina dan sebagian daerah Indocina, selanjutnya Spanyol di Filipina dan lain sebagainya. Hingga akhir abad ke 20 masehi, satu per satu negara dari kawasan Asia Tenggara memerdekakan diri dari belenggu bangsa Barat dan mengatur pemerintahan secara mandiri.

Komentar

Postingan Populer